Pencarian

Jateng Guyub Longmarch dari Gedong Songo ke Kantor Gubernur, Tolak Geothermal Gunung Ungaran dan Lawu

Rabu, 23 September 2026 • 12:16:02 WIB
Jateng Guyub Longmarch dari Gedong Songo ke Kantor Gubernur, Tolak Geothermal Gunung Ungaran dan Lawu
Massa Jateng Guyub berjalan kaki dari kawasan Gedong Songo menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah.

UNGARAN — Joko Priyanto, perwakilan Jateng Guyub, menyatakan bahwa aksi longmarch ini merupakan bentuk protes terhadap rencana pembangunan geothermal yang dinilai berpotensi merusak lingkungan dan kehidupan generasi mendatang. Massa yang berangkat dari Ungaran dan sekitarnya bergerak dengan berjalan kaki menuju kantor gubernur.

"Ini suatu bentuk penolakan juga terhadap rencana pembangunan geothermal di Gunung Lawu. Malam ini dulur-dulur yang ada di Ungaran dan sekitarnya juga melakukan aksi yang sama, jalan kaki menuju kantor gubernur," kata Joko.

Mengapa Gunung Ungaran dan Lawu Ditolak?

Joko menegaskan bahwa kawasan Gunung Ungaran maupun Gunung Lawu tidak semestinya dijadikan lokasi pembangunan geothermal. Menurutnya, kedua kawasan tersebut memiliki fungsi ekologis dan sosial yang tidak bisa digantikan.

"Ini suatu bentuk protes, sikap tegas masyarakat bahwa Gunung Ungaran, Gunung Lawu itu tidak seharusnya ada pembangunan geothermal seperti itu," tegasnya.

Jateng Guyub mengklaim telah menghimpun elemen dari 28 kabupaten/kota di Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Joko menyebut bahwa aksi di wilayah Ungaran melibatkan sejumlah kelompok masyarakat yang tergabung dalam aliansi penolakan geothermal.

"Kalau kita mau lihat masa depan kita ke depan, ya kita harus lihat hari ini. Kalau memang di sini akan dibangun geothermal, itu akan merusak generasi kita selanjutnya dari faktor lingkungan," katanya.

Rencana Audiensi dengan Pemkab Semarang

Koordinator Aksi, Exy Wijaya, menerangkan bahwa setelah bermalam di Ungaran, massa berencana melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka juga merencanakan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Semarang sebagai bagian dari fungsi kontrol masyarakat.

"Kita menggunakan fungsi kontrol kita. Kita harus berani head to head dengan para pemangku kebijakan," tegasnya.

Exy menyebut masyarakat akan terus mendorong pemerintah Kabupaten Semarang maupun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperhatikan penolakan terhadap proyek geothermal tersebut. Menurutnya, Jateng Guyub dibentuk karena gerakan rakyat selama ini dinilai selalu terpecah-pecah dan mengedepankan ego sektoral.

"Ini adalah rumah bersama. Kenapa kita membuat Jateng Guyub? Karena kita melihat selama ini gerakan rakyat selalu terpecah-pecah, selalu mengedepankan ego sektoral," jelasnya.

Unsur yang bergabung dalam aksi ini tidak hanya dari satu kelompok, tetapi juga petani, guru, nelayan, buruh, hingga berbagai organisasi masyarakat.

"Petani bisa bantu buruh, buruh bisa bantu kaum miskin. Jadi ketika suara ini bergabung, kekuatan kita semakin besar," katanya.

Kekhawatiran terhadap Fungsi Gunung Ungaran sebagai Sumber Kehidupan

Perwakilan Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran, Bambang Setyowilis, mengatakan penolakan terhadap geothermal didasari kekhawatiran terhadap keberlangsungan fungsi Gunung Ungaran sebagai sumber kehidupan masyarakat.

"Karena gunung yang memberi penghidupan itu sudah diobok-obok. Apakah tidak ada alternatif lain? Padahal kan ada," kata Bambang.

Menurut dia, pengembangan energi seharusnya tidak serta-merta mengorbankan kawasan gunung yang selama ini menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya. Bambang juga menyoroti keberadaan potensi peninggalan purbakala dan prasejarah di kaki Gunung Ungaran yang menurutnya masih banyak belum ditemukan.

"Nanti kalau itu tetap dilanjut, peradaban-peradaban yang belum ditemukan akan hilang," ujarnya.

Sebagai penggiat alam, Bambang mengaku bergabung dalam Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran karena menilai Gunung Ungaran memiliki peran penting bagi wilayah di sekitarnya.

"Gunung Ungaran adalah gunung yang memberi kehidupan, gunung yang menjadikan kota di sekelilingnya menjadi besar seperti Ambarawa, Salatiga, Tuntang, dan Kendal," katanya.

Ia juga mempertanyakan urgensi pembangunan geothermal apabila kebutuhan energi masih dapat dipenuhi melalui sumber energi lainnya.

"Kenapa harus dikorbankan hanya demi energi yang sesaat?" ujarnya.

Bambang berharap berbagai elemen masyarakat, termasuk budayawan, seniman dan pemerhati alam, ikut mengawal rencana pembangunan geothermal di Gunung Ungaran.

"Kita satukan visi dan misi. Saya yakin tetap kita bersatu, pasti kita bisa merobohkan dinding itu. Yang penting tetap semangat," tandasnya.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rasikafm.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks