JAWA TENGAH — CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengungkapkan pertumbuhan laba tidak hanya terjadi di sektor perbankan atau energi, tetapi merata di berbagai lini. "Pola pertumbuhan yang tersebar di berbagai sektor ini menunjukkan perbaikan kinerja tidak bersifat parsial ataupun bergantung pada satu kebijakan tunggal," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Data menunjukkan PT Pupuk Indonesia mencatatkan kenaikan paling tajam secara persentase, dari laba Rp1,59 triliun menjadi Rp4,82 triliun. Sementara itu, PT Pertamina (Persero) membukukan laba konsolidasi Rp24,97 triliun, naik signifikan dari posisi Rp13,9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Krakatau Steel: Dari Kerugian Rp981 Miliar ke Laba Rp635 Miliar
Salah satu cerita paling menarik datang dari perusahaan baja pelat merah yang sebelumnya tertekan utang. PT Krakatau Steel berhasil memangkas beban utang dari sekitar 1,7 miliar dolar AS menjadi 1,1 miliar dolar AS. Hasilnya, perusahaan yang sempat mencatat rugi Rp981 miliar kini membukukan laba Rp635 miliar.
Perbaikan serupa juga terjadi di sektor farmasi dan elektronik. PT Kimia Farma berbalik dari rugi Rp160 miliar menjadi laba Rp108 miliar, sementara PT Len Industri mencatat lonjakan dari rugi Rp228 miliar menjadi laba Rp314 miliar. PT Semen Indonesia juga tak ketinggalan, berubah dari rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar.
Bank Himbara Kuasai 10 Persen Kapitalisasi Pasar Nasional
Rosan juga menyoroti kekuatan sektor perbankan BUMN yang tidak hanya mengejar laba. Kapitalisasi pasar gabungan bank-bank Himbara saat ini mencapai sekitar Rp1.100 triliun, setara dengan 10 persen dari total nilai seluruh perusahaan di Indonesia. "Perbankan juga tidak semata-mata mengejar laba, tetapi kehadirannya harus dirasakan masyarakat melalui pemberian kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan, mulai dari UMKM, komersial, hingga korporasi," tegas Rosan.
Menurutnya, transformasi BUMN ke depan tidak lagi diukur dari besarnya aset semata, melainkan dari kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Dengan perbaikan kinerja yang mulai merata, ia optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring konsolidasi pengelolaan yang lebih ketat di bawah Danantara Indonesia.