SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah menyiapkan diri menjadi tujuan utama relokasi industri dari Vietnam. Gubernur Ahmad Luthfi menyebut, peluang itu muncul karena kawasan industri di Vietnam dinilai sudah mulai padat.
"Di Vietnam sudah mulai penuh. Ada investor yang akan menarik beberapa industri padat karya dari Vietnam ke Jawa Tengah," ungkap Luthfi saat menerima kunjungan kerja BKSAP DPR RI di Kota Semarang, Rabu (1/7/2026).
Logistik Jadi PR Utama: Baru 30 Persen Kontainer Dilayani Pelabuhan Semarang
Di balik peluang investasi itu, Luthfi menyoroti persoalan logistik yang masih menghambat daya saing daerah. Ia memaparkan, kebutuhan logistik kontainer nasional mencapai sekitar 10 juta TEUs per tahun. Dari jumlah itu, 7 juta TEUs di antaranya berasal dari Jawa Tengah.
Ironisnya, baru sekitar 30 persen arus kontainer dari Jawa Tengah yang bisa dilayani melalui Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Sisanya masih bergantung pada pelabuhan di Jawa Timur dan Jakarta, yang otomatis memperpanjang waktu dan biaya distribusi.
Pemprov Dorong Revitalisasi dan Pembukaan Pelabuhan Baru
Untuk memangkas ongkos logistik, Pemprov Jawa Tengah mendorong percepatan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas. Luthfi juga mengusulkan pembukaan pelabuhan baru di sejumlah titik strategis.
"Kalau perlu dibuka pelabuhan di Kendal, Batang, Rembang, maupun Cilacap. Kalau itu belum memungkinkan, kami siapkan dry port (pelabuhan darat) di Kendal dan Batang," tegasnya.
Diplomasi Parlemen Jadi Senjata Tarik Investor Asing
Langkah menggandeng BKSAP DPR RI dinilai strategis untuk memperkuat diplomasi ekonomi. Menurut Luthfi, jejaring parlemen bisa membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi produk-produk Jawa Tengah.
Pemprov menargetkan, dengan perbaikan infrastruktur dan dukungan diplomatik, Jawa Tengah mampu bersaing secara global dalam menarik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).