Pencarian

Seniman Mural Batang Buktikan Tembok Bisa Jadi Media Kritik Sosial, Sabet Juara Nasional dari BI hingga Solo

Rabu, 01 Juli 2026 • 17:31:31 WIB
Seniman Mural Batang Buktikan Tembok Bisa Jadi Media Kritik Sosial, Sabet Juara Nasional dari BI hingga Solo
Seniman mural Batang raih juara nasional lewat karya kritik sosial di tembok kota.

BATANG — Tembok-tembok di sudut kota kerap dipandang sebelah mata. Namun bagi Syaiful Bassyar, Nico Aryo Pradita, dan Nasrul Khaq, kanvas raksasa itu justru menjadi ruang paling jujur untuk menyuarakan kegelisahan. Lewat komunitas Mural Jaya Abadi (Muryadi), mereka membuktikan bahwa mural bisa menjadi alat kritik yang komunikatif sekaligus membawa pulang piala.

Dua Piala Nasional dalam Waktu Berdekatan

Prestasi terbaru mereka datang dari dua ajang bergengsi. Pertama, juara pertama Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) yang digelar Bank Indonesia di Jakarta. Kedua, juara pertama Harmony of Solo dengan tema keharmonisan toleransi beragama.

“Setiap tema harus dipahami terlebih dahulu. Mural bukan sekadar gambar, tetapi media untuk menyampaikan pesan dan kritik yang membangun,” ujar Nico Aryo Pradita usai menghadiri Batang Art Festival (BAF) ke-7 di Jalan Veteran Batang, Minggu (28/6/2026).

Kritik yang Tak Menimbulkan Konflik

Menurut Nico, kekuatan utama mural justru terletak pada kemampuannya menyampaikan kritik tanpa harus memicu gesekan. Lewat visual, pesan-pesan keras bisa dicerna tanpa perlu debat panjang. Ia mencontohkan, isu sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, hingga toleransi bisa diangkat tanpa kata-kata yang menusuk.

“Yang paling penting adalah bagaimana pesan itu bisa dipahami masyarakat. Teknik melukis juga harus terus diasah agar karya semakin berkualitas,” katanya.

Bukan Sekadar Gambar di Tembok

Proses kreatif mereka tidak main-main. Sebelum memegang kuas, para muralis ini terlebih dahulu mendalami tema dan pesan yang ingin disampaikan. Mereka meyakini, mural yang baik lahir dari pemahaman konteks, bukan sekadar estetika permukaan.

Komunitas Muryadi sendiri lahir dari kegelisahan akan minimnya ruang ekspresi di Batang. Kini, justru dari tembok-tembok itulah mereka mendapatkan pengakuan nasional. Batang Art Festival ke-7 yang baru digelar menjadi salah satu panggung mereka untuk menunjukkan bahwa seni jalanan bisa naik kelas.

Bagikan
Sumber: joglojateng.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks