KARANGANYAR — Hamparan sawah di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, yang baru selesai panen, Sabtu pagi (13/6/2026) berubah menjadi lokasi penghijauan massal. Ratusan bibit pohon jenis Preh, Bulu, dan Beringin—yang dikenal sebagai pohon penyimpan air—berjajar di tepi Kali Cemara, sumber irigasi utama petani setempat. Para relawan, petani, dan warga bersama-sama menanam bibit tersebut dalam gerakan Merawat Pertiwi.
Menanam Tanpa Menghitung Hasil, Seperti Pesan Bung Karno
Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mengatakan, momentum Bulan Bung Karno dipilih untuk mengingatkan bahwa perjuangan tidak hanya soal politik dan kebangsaan, tetapi juga menjaga alam. Ia mengutip kalimat yang kerap disampaikan Presiden pertama RI Soekarno, "Karmanyevadhikaraste maphalesu kadacana".
“Menanam pohon juga seperti itu. Mungkin kita tidak langsung menikmati hasilnya, tetapi anak cucu kita yang akan merasakan manfaatnya,” kata politisi PDI Perjuangan itu di sela-sela kegiatan.
Pohon sebagai Cadangan Air di Musim Kemarau
Pemilihan jenis pohon Preh, Bulu, dan Beringin bukan tanpa alasan. Ketiga jenis pohon ini memiliki fungsi ekologis sebagai penyimpan cadangan air tanah. Sumanto menjelaskan, gerakan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengurangi risiko kekeringan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah saat musim kemarau tiba.
“Menanam pohon merupakan bentuk investasi jangka panjang yang manfaatnya mungkin tak langsung kita rasakan. Namun akan memberikan dampak besar bagi kehidupan pada masa depan,” ujarnya.
Kepedulian Lingkungan Dimulai dari Tindakan Sederhana
Menurut Sumanto, kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana namun konsisten. Gerakan menanam pohon di tepi Kali Cemara ini menjadi salah satu wujud nyata. Warga dan petani setempat menyambut antusias, karena keberadaan pohon di sekitar sumber air dinilai vital untuk menjaga debit air tetap stabil sepanjang tahun.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat pedesaan. Sumanto berharap, gerakan Merawat Pertiwi bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Jawa Tengah untuk mulai memulihkan lingkungan dari hal-hal kecil.