JAWA TENGAH — Bambang Ismawan bukan nama baru di lingkungan PTBA. Sebelum naik jabatan menjadi Direktur Utama, ia sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Utama perusahaan tambang batu bara tersebut. Pria lulusan Akademi Militer 1988 ini memiliki karier militer yang mentereng. Jabatan terakhirnya sebelum pensiun adalah Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, dan ia juga pernah memimpin Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI.
Ia menggantikan Arsal Ismail yang sebelumnya menduduki posisi nomor satu di PTBA. Tak hanya kursi direktur utama, RUPST PTBA juga menempatkan purnawirawan lainnya, Ida Bagus Putu Dunia, sebagai Komisaris Utama. Ida Bagus merupakan mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Janji Seleksi Ketat Berbanding Terbalik dengan Realita
Penunjukan Bambang menuai sorotan karena dinilai kontras dengan pernyataan Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria. Dalam sebuah podcast, Dony menegaskan bahwa proses rekrutmen direksi BUMN kini diperketat. Ia menyebut setiap kandidat wajib menjalani asesmen oleh empat konsultan independen dan wawancara dengan panel bersertifikat.
"Tujuannya memastikan setelah perusahaan ini dibenahi, perusahaan dipimpin oleh orang-orang yang memang qualified. Kalau tidak, setelah dibenahi tetapi dipimpin orang yang tidak qualified, hasilnya akan sia-sia," ujar Dony dalam podcast yang dikutip beberapa waktu lalu. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa jalur militer masih menjadi "jalan tol" menuju kursi pimpinan BUMN.
Deretan Purnawirawan di BUMN Tambang Lainnya
Fenomena ini bukan hanya terjadi di PTBA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga dipimpin oleh purnawirawan TNI AD, Letnan Jenderal (Purn.) Untung Budiharto. Ia diangkat sebagai Direktur Utama pada Desember 2025. Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) dikomandoi oleh Restu Widiyantoro, mantan perwira infanteri dengan pangkat terakhir Kolonel yang kemudian mendapat pangkat kehormatan Brigadir Jenderal.
Dominasi ini merambah hingga jajaran komisaris. Di PT Adhi Karya Tbk (ADHI), posisi Komisaris Utama dipegang oleh Mayjen TNI (Purn.) Dody Usodo Hargo. Di PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), kursi Komisaris Utama diduduki Mayjen TNI (Purn.) Musa Bangun. Bahkan, PT Agrinas Palma Nusantara, BUMN yang bergerak di sektor perkebunan sawit, menunjuk Letjen TNI (Purn.) R. Wisnoe Prasetja Boedi sebagai Komisaris Utama.
Rekam jejak panjang para perwira tinggi ini di dunia militer memang tidak perlu diragukan. Namun, publik masih menanti apakah pengalaman di barak dan medan tempur itu sepadan dengan tantangan bisnis di sektor tambang dan konstruksi yang membutuhkan keahlian finansial dan tata kelola modern. (Z-3)