SEMARANG — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pertumbuhan signifikan pengguna KA Joglosemarkerto pada Januari hingga April 2026. Jika tahun sebelumnya 411.931 orang memanfaatkan jasa kereta ini, kini jumlahnya bertambah 47.007 penumpang menjadi 458.938 orang. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas pendidikan, perjalanan wisata, dan ekonomi lintas kota di dua provinsi tersebut.
Dua Rute Terpadat yang Menghubungkan Solo, Semarang, hingga Purwokerto
Dari total perjalanan yang tersedia, dua relasi mencatat volume penumpang tertinggi. KA 187 dengan rute Solo Balapan–Semarang Tawang–Tegal–Purwokerto–Solo Balapan melayani 168.971 pelanggan. Sementara itu, KA 193 yang menempuh jalur kebalikannya—Solo Balapan–Purwokerto–Tegal–Semarang Tawang–Solo Balapan—mengangkut 160.401 orang. Kedua rute ini menjadi tulang punggung konektivitas di koridor tengah Jawa.
Mahasiswa Jadi Motor Utama, APK DIY Tertinggi Nasional
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, pola perjalanan kereta ini unik karena menghubungkan banyak kota dalam satu lintasan tanpa perlu ganti moda. “Mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien karena pelanggan dapat bepergian antarkota untuk pendidikan, pekerjaan, wisata, maupun aktivitas ekonomi lainnya,” ujarnya. Data BPS 2025 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi DIY mencapai 74,70 persen—tertinggi di Indonesia—sementara Jawa Tengah memiliki konsentrasi kampus besar di Semarang, Solo, Purwokerto, hingga Salatiga. Kombinasi ini menjadikan Joglosemarkerto moda favorit bagi mahasiswa yang pulang-pergi antarkota.
Wisata Terkoneksi: Dari Malioboro ke Kota Lama Semarang
Selain pendidikan, kereta ini memperkuat akses ke destinasi unggulan. Penumpang bisa turun di Stasiun Yogyakarta untuk menuju Malioboro dan Candi Prambanan, atau melanjutkan ke Solo untuk menikmati Keraton Surakarta dan Kampung Batik Laweyan. Di ujung utara, Kota Lama dan Lawang Sewu di Semarang juga terhubung langsung tanpa hambatan. KAI menilai, tren ini menegaskan bahwa kereta api kini bukan sekadar alat transportasi, melainkan penggerak aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat lintas kota di Jawa Tengah dan DIY.