SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah langsung bergerak cepat merespons jebolnya tanggul Sungai Plumbon yang merendam permukiman di Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Penanganan dibagi dalam dua fase: darurat untuk menghentikan luapan air dan jangka panjang untuk memperkuat infrastruktur sungai.
Fase Darurat: Tanggul Darurat dan Pompa Air Dikerahkan
Pada tahap awal, tim gabungan dari BPBD, Dinas PUPR, dan TNI/Polri langsung membangun tanggul darurat di titik jebol. Material karung pasir dan bronjong kawat dikerahkan untuk menutup celah sepanjang kurang lebih 15 meter.
Pemerintah kota juga menyiagakan pompa air berkapasitas besar di beberapa titik genangan. Targetnya, air yang merendam rumah warga bisa surut dalam 1×24 jam ke depan.
Proyek Jangka Panjang: Normalisasi dan Betonisasi Tepi Sungai
Untuk jangka panjang, Pemprov Jateng berencana melakukan normalisasi Sungai Plumbon secara menyeluruh. Langkah ini mencakup pengerukan sedimentasi dan pelebaran badan sungai di titik-titik rawan luapan.
Selain itu, konstruksi tanggul permanen dari beton bertulang akan dibangun di sepanjang bantaran yang dinilai rawan longsor. Proyek ini masuk dalam usulan perubahan APBD 2025 dan ditargetkan mulai pengerjaan awal tahun depan.
Dampak ke Warga: Ratusan Jiwa Masih Mengungsi
Banjir akibat jebolnya tanggul ini memaksa sedikitnya 150 kepala keluarga meninggalkan rumah mereka. Sebagian warga mengungsi ke balai kelurahan dan posko darurat yang didirikan di lapangan sepak bola Mangkang Kulon.
Dapur umum telah beroperasi sejak pagi untuk memenuhi kebutuhan logistik pengungsi. Petugas kesehatan dari puskesmas setempat juga bersiaga mengantisipasi penyakit pasca-banjir seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Penyebab Jebol: Curah Hujan Ekstrem dan Drainase Tersumbat
Berdasarkan laporan sementara dari Dinas PUPR Kota Semarang, tanggul jebol setelah hujan deras mengguyur wilayah Semarang barat selama lebih dari enam jam tanpa henti. Volume air dari hulu meningkat drastis, sementara saluran drainase di hilir tersumbat sampah dan sedimentasi.
Kepala BPBD Jateng menyebutkan bahwa kejadian ini menjadi alarm bagi daerah-daerah lain dengan kondisi sungai serupa. Pihaknya mendorong pemerintah kota untuk rutin membersihkan saluran air sebelum musim hujan puncak tiba.