WONOSOBO — Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Rekonstruksi Pendidikan IPA Berbasis Etno-STEM Terintegrasi Islamic Value", Ahmad Khoiri menekankan bahwa sains tidak boleh hanya dibatasi oleh ruang kelas atau laboratorium. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus digali dari tradisi dan kehidupan masyarakat desa.
Pendekatan yang ditawarkannya memadukan etnosains, STEM, dan nilai-nilai Islam sebagai satu kesatuan. Khoiri berharap pembelajaran sains tidak berhenti pada hafalan rumus, tetapi juga membentuk karakter moral mahasiswa secara menyeluruh.
Khoiri menyebut latar belakangnya sebagai anak desa bukan kelemahan, melainkan aset yang justru menjadi fondasi pemikirannya. Sumber daya di desa, termasuk kearifan lokal, ia pandang sebagai bahan mentah yang sah bagi rekonstruksi pendidikan IPA.
"Saya terlahir dari desa. Saya tidak menganggap itu sebagai kelemahan, justru sebagai aset. Sumber daya yang ada di desa, termasuk kearifan lokal, bisa dijadikan bagian dari rekonstruksi pendidikan IPA yang saya tekuni saat ini," ujarnya saat pengukuhan.
Pandangan tersebut ia terjemahkan ke dalam gagasan bahwa belajar sains mesti sampai pada pemahaman makna. Bukan sekadar menguasai konsep di atas kertas.
"Belajar sains bukan hanya sekadar memahami rumus dan konsep. Kita juga harus memahami makna di dalamnya, sehingga semakin bersyukur, bertanggung jawab, tekun, rajin, dan jujur," katanya.
Karier dosen Ahmad Khoiri dimulai pada 2014. Sepanjang perjalanan itu, ia tercatat sebagai wisudawan terbaik S-1 dan peraih karya ilmiah paling berpengaruh di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama tingkat nasional.
Di tingkat provinsi, ia meraih predikat Academic Leader Jawa Tengah. Deretan capaian itu kini dilengkapi jabatan guru besar yang ia raih di usia relatif muda dibandingkan mayoritas profesor bidang Pendidikan IPA di Indonesia.
Unsiq sendiri mencatat Khoiri sebagai guru besar ketiga yang dimiliki kampus tersebut. Penambahan ini memperkuat barisan dosen bergelar profesor di perguruan tinggi berbasis Nahdlatul Ulama di Wonosobo itu.
Khoiri menegaskan capaian profesor bukan titik akhir pengabdian. Ia justru mempertanyakan seberapa jauh ilmunya bisa berdampak setelah menyandang gelar tertinggi akademik tersebut.
"Setelah menjadi guru besar, bagaimana ilmu yang saya miliki bisa semakin berdampak bagi masyarakat. Bukan hanya di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga di tengah masyarakat," ujarnya.
Harapan itu sejalan dengan pendekatan etno-STEM yang ia usung. Basisnya adalah kehidupan warga desa, dan muaranya diarahkan kembali ke masyarakat sekitar, bukan hanya ke dinding kampus.