JAWA TENGAH — Telur jadi pilihan lauk MPASI yang murah, mudah diolah, dan kaya protein untuk bayi. Tapi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella. Simak panduan lengkap kapan bayi boleh mulai makan telur dan cara menyajikannya dengan aman.
Pemberian MPASI bukan sekadar soal kenyang. IDAI menekankan aspek keamanan makanan sama pentingnya dengan kandungan gizi, terutama saat bayi baru belajar makan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menyebut pemberian makanan kepada bayi perlu memperhatikan usia, kesiapan tumbuh kembang, dan keamanan makanan yang dikonsumsi. Bukan hanya soal nutrisinya saja.
IDAI merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu dilanjutkan bersama MPASI hingga usia 2 tahun atau lebih. MPASI umumnya dimulai saat bayi berusia 6 bulan.
Dalam kondisi tertentu, pemberian MPASI bisa dipertimbangkan sejak usia 4 bulan atau 17 minggu berdasarkan penilaian dokter. Namun, MPASI tidak dianjurkan diberikan sebelum bayi berusia 4 bulan.
Telur sendiri tidak perlu ditunda hingga anak berusia satu tahun hanya untuk mencegah alergi, kecuali ada pertimbangan medis khusus. Telur bisa diperkenalkan sebagai bagian dari MPASI begitu bayi siap makan, dengan tetap memperhatikan kematangan dan teksturnya.
Sebelum memberikan telur, pastikan bayi sudah menunjukkan kesiapan makan. Ada beberapa tanda yang bisa ibu perhatikan:
Tekstur makanan juga harus disesuaikan dengan kemampuan bayi. Tujuannya untuk mengurangi risiko tersedak atau makanan masuk ke saluran pernapasan.
Telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella. Infeksi bakteri ini bisa menyebabkan diare, demam, nyeri perut, dan muntah.
Pada bayi dan anak kecil, infeksi Salmonella berisiko memicu dehidrasi dan kondisi yang lebih serius. Karena itu, pastikan bagian putih dan kuning telur matang sempurna sebelum disajikan kepada bayi.
Untuk hidangan yang tidak dimasak hingga matang sempurna, gunakan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan.
Kebersihan saat menyiapkan makanan sama pentingnya dengan proses memasaknya. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan:
Jika ibu masih ragu kapan mulai memberikan telur atau bagaimana cara menyajikannya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter. Terutama bila bayi memiliki riwayat alergi atau kondisi medis tertentu.
Dokter bisa memberikan panduan yang sesuai dengan kondisi tumbuh kembang si kecil. Jadi, pemberian telur sebagai MPASI bisa dilakukan dengan lebih tenang.
Dengan pengolahan yang tepat, telur bisa menjadi pilihan menu MPASI yang bergizi tanpa membuat orang tua khawatir berlebihan. Kuncinya ada tiga: pastikan bayi sudah siap makan, olah telur hingga matang sempurna, dan jaga kebersihan selama proses penyajian.