Pemkot Salatiga Perkuat Intervensi Lintas Sektor Tekan Stunting, 494 Kasus Tercatat hingga Agustus 2026

Penulis: Xander Situmorang  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:46:01 WIB
Rapat koordinasi TPPS Kota Salatiga membahas penguatan intervensi lintas sektor untuk menekan angka stunting.

SALATIGA — Rapat koordinasi TPPS Kota Salatiga diikuti Kepala DP3AP2KB Suparli, camat dari empat kecamatan, dan sejumlah tenaga medis. Nina Agustin menyatakan penanganan stunting tidak bisa dikerjakan satu dinas saja.

"Dibutuhkan komitmen bersama lintas sektor, mulai dari kelurahan hingga tingkat kota, terutama untuk mengintervensi pola makan anak dan edukasi bahaya rokok di dalam rumah," tegas Nina.

Tiga Faktor Determinan yang Paling Banyak Ditemukan

Laporan perkembangan TPPS hingga Agustus 2026 mencatat tiga faktor determinan utama penyebab stunting di Salatiga. Pertama, pola makan yang tidak adekuat. Kedua, paparan rokok dalam keluarga. Ketiga, weight faltering atau gagal tumbuh pada anak.

"Dimana, faktor determinan yang banyak ditemukan meliputi pola makan yang tidak adekuat, paparan rokok dalam keluarga, serta weight faltering atau gagal tumbuh," ujar Nina.

Dari tiga temuan itu, Pemkot Salatiga menilai pendekatan seragam tidak cukup. Intervensi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga dan lingkungan tempat anak tinggal.

Kader Posyandu Diminta Deteksi Dini Gagal Tumbuh

Nina meminta kader posyandu dan tim lapangan lebih proaktif melakukan deteksi dini weight faltering. Tujuannya, intervensi gizi bisa diberikan sedini mungkin sebelum kondisi anak berkembang menjadi stunting.

"Karena itu, Pemerintah Kota Salatiga akan memperkuat intervensi lintas sektor untuk mempercepat pencegahan dan penurunan stunting," kata Nina.

Deteksi dini dinilai krusial karena weight faltering sering tidak terlihat dari penampilan anak. Tanpa pemantauan rutin di posyandu, kasus gagal tumbuh baru terdeteksi setelah anak masuk kategori stunting.

Pendampingan Diperkuat Sejak Calon Pengantin hingga Masa Nifas

Kepala DP3AP2KB Kota Salatiga Suparli menambahkan bahwa pendampingan terpadu perlu diperkuat sejak calon pengantin, ibu hamil, hingga masa nifas. Rentang waktu itu menjadi periode paling menentukan dalam pencegahan stunting.

Dengan 494 kasus atau 6,46 persen yang tercatat hingga Agustus 2026, Pemkot Salatiga masih memiliki pekerjaan rumah untuk menurunkan angka tersebut. Rapat koordinasi di Ruang Kalitaman menjadi dasar penyusunan langkah lanjutan lintas sektor hingga akhir tahun.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: jateng.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top