BMKG Prediksi Awal Musim Hujan Jateng Tidak Serentak, Wonosobo Paling Awal dan Jepara Paling Akhir

Penulis: Vino Bastian  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 07:16:01 WIB
BMKG memprediksi awal musim hujan di Jawa Tengah tidak serentak, dengan Wonosobo paling awal dan Jepara paling akhir.

SEMARANG — Sebanyak 58 persen dari total luasan wilayah Jawa Tengah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara sekitar enam persen wilayah lain baru mengalaminya pada dasarian kedua Desember atau pertengahan Desember. Angka itu disampaikan dalam konferensi pers awal musim hujan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Rabu (30/9/2026).

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, menyebut musim hujan tahun ini mundur lebih dari satu bulan atau tiga dasarian dibandingkan kondisi normal. Kemunduran itu dipicu kemarau lebih panjang, anomali iklim El Nino sangat kuat, serta IOD positif.

Wonosobo hingga Brebes Diguyur Hujan Lebih Dulu

Wilayah yang paling awal memasuki musim hujan meliputi Kabupaten Wonosobo, sebagian Banjarnegara, serta sebagian kecil Temanggung, Purbalingga, Tegal, Brebes, dan Banyumas. Kelompok ini masuk kategori enam persen wilayah dengan awal musim hujan pada dasarian pertama November.

Bagi warga di wilayah tersebut, masa peralihan musim atau pancaroba diperkirakan mulai pertengahan Oktober. Zauyik meminta masyarakat mewaspadai banjir bandang, longsor, dan puting beliung pada periode tersebut.

Jepara dan Rembang Paling Akhir Masuk Musim Hujan

Sebaliknya, sebagian besar Kabupaten Jepara, sebagian Rembang, serta sebagian kecil Demak, Pati, dan Wonogiri diprediksi baru memasuki musim hujan pada pertengahan Desember. Jumlahnya juga sekitar enam persen dari total wilayah Jateng.

Wilayah pesisir utara seperti Jepara dan Rembang biasanya lebih lambat mendapat hujan karena pola angin monsun. Namun BMKG menegaskan penundaan tahun ini lebih panjang dari biasanya.

El Nino Kuat Bertahan hingga Awal 2027

Kondisi global saat ini didominasi El Nino kuat dengan indeks positif 2,63 yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Indian Ocean Dipole (IOD) yang pada pemantauan Juni-September berada pada kondisi netral mulai menunjukkan nilai positif pada September 2026 dan diprediksi bertahan hingga akhir 2026.

Kombinasi dua fenomena itu membuat penguapan dan pembentukan awan hujan tertunda di sebagian besar wilayah Jateng. Dampaknya, awal musim hujan tidak serentak dan bergeser dari jadwal normal.

Apa yang Perlu Disiapkan Warga Menjelang Pancaroba?

Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mengingatkan masyarakat mempersiapkan diri menghadapi masa peralihan musim. Pancaroba diprediksi mulai pertengahan Oktober jika awal musim hujan terjadi pada November.

"Waspadai banjir bandang, longsor, dan puting beliung pada pancaroba. Jika awal musim hujan diprediksi terjadi pada November, maka pancaroba diprediksi mulai pertengahan Oktober sebagai masa peralihan musim," ujar Zauyik.

Warga di daerah rawan longsor seperti Banjarnegara dan Wonosobo diminta memeriksa saluran drainase serta menandai titik lereng yang berpotensi runtuh. Sementara wilayah pesisir Jepara dan Rembang perlu bersiap menghadapi kekeringan lebih lama sebelum hujan turun.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: indoraya.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top