JAWA TENGAH — Mengutip Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 95 sen atau 1% menjadi US$103,45 per barel. Kedua acuan harga ini sebelumnya melonjak lebih dari 6% pada perdagangan Kamis (10/9).
Kenaikan mingguan hampir 13% tersebut menjadi yang tertinggi sejak pekan yang berakhir 17 Juli lalu. Pasar energi global kembali bergolak setelah serangkaian gangguan pasokan di kawasan strategis Timur Tengah.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis (10/9). Penguasaan pelabuhan ini menambah ancaman langsung terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah.
Di kawasan Teluk, lalu lintas pelayaran masih terbatas akibat gangguan di Selat Hormuz. Serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Eskalasi meluas setelah serangan dari Yaman menyasar fasilitas energi Arab Saudi. Konflik yang sebelumnya berpusat di Iran dan Selat Hormuz kini merambah ke jalur distribusi minyak yang lebih luas, memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat menyerang Pickaxe Mountain di Iran, lokasi yang berada dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang mengalami kerusakan berat. Trump juga menyatakan perang akan berakhir setelah pemilu sela AS pada November.
Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian pasar. Pelaku pasar energi mencermati apakah konflik akan mereda setelah pemilu atau justru meningkat menjelang tanggal tersebut.
Analis IG Tony Sycamore menilai harga minyak berpotensi kembali menguji level tertinggi sebelumnya jika konflik terus meluas.
"Dengan situasi yang terus memburuk dan Iran menunjukkan kesediaannya untuk memperluas serta memperpanjang konflik ini selama dan seluas mungkin, semakin besar kemungkinan minyak mentah WTI kembali menguji level tertinggi US$119,48 yang dicapai pada awal Maret," kata Sycamore.
Proyeksi tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan tidak akan selesai dalam waktu dekat. Jika WTI benar menyentuh US$119,48, kenaikannya dari level saat ini mencapai sekitar 15%.
Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 380 ribu barel per hari (bph). Pemangkasan ini menjadi