JAWA TENGAH — Kinerja rupiah hari ini lebih baik dibandingkan perdagangan Selasa (8/9), ketika mata uang Garuda hanya naik 8 poin atau 0,05% dan ditutup di posisi Rp17.632 per dolar AS. Penguatan pagi ini berlangsung di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang mencermati perubahan ekspektasi kebijakan moneter bank sentral utama.
Pergerakan dolar yang relatif datar memang menguntungkan rupiah. Namun, pelaku pasar masih memperhitungkan dua risiko utama: kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi menekan inflasi, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi. Kedua faktor ini bisa memicu perubahan arus modal global dan menahan laju penguatan mata uang negara berkembang.
Dinamika yen Jepang menjadi katalis penting di pasar Asia pagi ini. Mengutip Reuters, yen telah menguat hampir 5% sejak pekan lalu dan sempat menyentuh level 152,89 per dolar AS—bahkan melewati posisi ketika Jepang melakukan intervensi pada Juli. Mata uang Jepang terakhir tercatat naik 0,03% menjadi 153,81 per dolar AS.
Penguatan yen dipicu ekspektasi Bank of Japan mempercepat pengetatan moneter, potensi repatriasi dana pelaku pasar Jepang, dan pembalikan posisi carry trade. Tekanan dari Washington kepada pelaku pasar yang bertaruh melawan yen turut memperkuat sentimen.
Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex, menyebut pergerakan ini sebagai kelanjutan dari short squeeze yang kuat sejak pekan lalu.
Perhatian investor berikutnya mengarah ke Federal Reserve. Peluang bank sentral AS menaikkan suku bunga bulan ini diperkirakan sekitar 60%, setelah data nonfarm payrolls menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan.
Jika The Fed kembali mengetatkan kebijakan, permintaan dolar berpotensi naik karena imbal hasil aset berdenominasi dolar semakin menarik. Kondisi itu bisa meningkatkan volatilitas rupiah menjelang akhir perdagangan.
Di pasar utama, euro bergerak relatif datar di US$1,1628, sementara dolar Kanada menguat 0,23% menjadi C$1,378. Perbedaan pergerakan ini menunjukkan investor belum berani mengambil posisi agresif sebelum ada katalis baru.
Untuk rupiah, keberlanjutan penguatan akan ditentukan oleh pergerakan dolar AS, yen, harga minyak, imbal hasil obligasi AS, serta ekspektasi kebijakan The Fed. Jika tekanan dolar mereda, rupiah berpeluang mempertahankan momentum. Sebaliknya, perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memicu pelemahan kembali.