JAWA TENGAH — Berdasarkan data pasar keuangan, mata uang Garuda bergerak tipis di awal sesi. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pergerakan ini masih akan berlanjut sepanjang hari karena tidak ada katalis ekonomi baru.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting, baik dari internal maupun eksternal hari ini. Walau rupiah mungkin didukung oleh indeks dolar yang terpantau terkoreksi, namun harga minyak mentah dunia yang masih naik akibat eskalasi di Timur Tengah membebani," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah sentimen yang bervariasi di kawasan. Mayoritas mata uang Asia justru berhasil menguat terhadap dolar AS, dipimpin yen Jepang yang melesat 0,72 persen dan won Korea Selatan yang terapresiasi 0,63 persen.
Adapun di negara maju, mayoritas mata uang utama juga menunjukkan penguatan. Euro Eropa naik 0,10 persen, poundsterling Inggris menguat 0,05 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,15 persen. Hanya dolar Australia yang terpantau terkoreksi 0,03 persen.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level support terdekat berada di kisaran Rp17.600, sementara resistensi psikologis membayangi di area Rp17.700.
Tekanan terhadap rupiah datang dari harga komoditas energi yang masih bertahan tinggi. Konflik yang berlanjut di Timur Tengah membuat pasar waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, yang pada gilirannya memperberat defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor migas.
Di sisi lain, koreksi indeks dolar AS memberikan ruang napas bagi mata uang emerging market. Namun, tanpa sentimen penggerak yang kuat, pelaku pasar cenderung memilih wait and see dan menjaga posisi menjelang data ekonomi berikutnya.
Investasi mengandung risiko.