Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.645 per Dolar AS, Tertekan Harga Minyak di Tengah Konflik Timur Tengah

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Selasa, 08 September 2026 | 09:49:31 WIB
Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.645 per dolar AS pada awal sesi perdagangan hari ini.

JAWA TENGAH — Berdasarkan data pasar keuangan, mata uang Garuda bergerak tipis di awal sesi. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pergerakan ini masih akan berlanjut sepanjang hari karena tidak ada katalis ekonomi baru.

"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting, baik dari internal maupun eksternal hari ini. Walau rupiah mungkin didukung oleh indeks dolar yang terpantau terkoreksi, namun harga minyak mentah dunia yang masih naik akibat eskalasi di Timur Tengah membebani," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Mata Uang Asia Terbelah Dua Arah

Pergerakan rupiah terjadi di tengah sentimen yang bervariasi di kawasan. Mayoritas mata uang Asia justru berhasil menguat terhadap dolar AS, dipimpin yen Jepang yang melesat 0,72 persen dan won Korea Selatan yang terapresiasi 0,63 persen.

  • Peso Filipina naik 0,16 persen
  • Ringgit Malaysia terapresiasi 0,02 persen
  • Dolar Singapura menguat 0,12 persen
  • Yuan China melemah tipis 0,01 persen
  • Dolar Hong Kong bergerak datar

Adapun di negara maju, mayoritas mata uang utama juga menunjukkan penguatan. Euro Eropa naik 0,10 persen, poundsterling Inggris menguat 0,05 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,15 persen. Hanya dolar Australia yang terpantau terkoreksi 0,03 persen.

Rentang Perdagangan Hari Ini

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level support terdekat berada di kisaran Rp17.600, sementara resistensi psikologis membayangi di area Rp17.700.

Tekanan terhadap rupiah datang dari harga komoditas energi yang masih bertahan tinggi. Konflik yang berlanjut di Timur Tengah membuat pasar waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, yang pada gilirannya memperberat defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor migas.

Di sisi lain, koreksi indeks dolar AS memberikan ruang napas bagi mata uang emerging market. Namun, tanpa sentimen penggerak yang kuat, pelaku pasar cenderung memilih wait and see dan menjaga posisi menjelang data ekonomi berikutnya.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top