JAWA TENGAH — Kenaikan 14,47 persen memang impresif. Namun bila dilihat dari volumenya, Riau masih jauh tertinggal dari provinsi sentra produksi. BPS mencatat produksi jagung nasional pada periode yang sama mencapai sekitar 14,25 juta ton, sedikit naik dari 14,08 juta ton tahun lalu—artinya kontribusi Riau kurang dari 0,03 persen.
Kondisi ini justru menjadi dasar optimisme, bukan pesimisme. Kepala Biro Sumber Daya Manusia Polda Riau Kombes Boy J Situmorang menilai angka tersebut menunjukkan lahan potensial di Riau belum tergarap maksimal.
Boy menegaskan keterlibatan kepolisian dalam program ketahanan pangan tidak untuk menggantikan fungsi petani ataupun instansi teknis. Menurutnya, Polri hadir sebagai penggerak potensi dan jembatan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bulog, kelompok tani, dan dunia usaha.
"Ketahanan pangan bukan pekerjaan satu institusi. Petani tetap menjadi aktor utama. Tugas kita adalah bagaimana ikut menciptakan ekosistem yang mendukung, membuka kolaborasi dan memastikan potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal," ujar Boy, Jumat (4/9/2026).
Di lapangan, jajaran Polda Riau telah menjalankan pendampingan kelompok tani, pemanfaatan lahan produktif, serta penanaman jagung di sejumlah wilayah. Langkah ini sejalan dengan arahan presiden yang menjadikan swasembada pangan sebagai program prioritas nasional.
Boy menyebut keberlanjutan menjadi kata kunci. Peningkatan produksi yang hanya terjadi satu musim tidak akan cukup untuk mendorong Riau naik kelas sebagai lumbung pangan. Dibutuhkan penambahan luas tanam secara konsisten dan perbaikan produktivitas lahan.
"Kita tentu tidak berhenti pada angka hari ini. Masih ada ruang yang cukup besar untuk tumbuh. Yang terpenting adalah bagaimana peningkatan ini bisa dijaga secara berkelanjutan dan pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan," katanya.
Ia menambahkan, semakin banyak lahan produktif yang dioptimalkan, semakin besar pula peluang Riau berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Namun semua itu memerlukan sinergi lintas sektor yang tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.