PEMALANG — Kabupaten Pemalang menjadi salah satu lumbung padi Jawa Tengah yang diandalkan untuk mendongkrak produksi menuju target 10,5 juta ton hingga akhir 2026. Dari total capaian 6,69 juta ton yang sudah dikumpulkan sejak Januari, Pemalang tercatat masuk lima besar daerah penyangga produksi padi di provinsi ini.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut capaian saat ini masih akan bertambah seiring berakhirnya musim panen kedua. Sejumlah daerah, kata dia, bahkan mulai bersiap memasuki musim tanam dan panen ketiga yang menjadi tambahan produksi.
“Januari-Agustus ini sudah 6,69 juta ton. Hari ini kita panen padi di Pemalang, di kabupaten/kota lain juga melakukan panen. Apabila ini bisa dipertahankan maka akan bisa terpenuhi,” ujar Luthfi di sela panen raya, Kamis (3/9/2026).
Panen raya yang diikuti Gubernur berlangsung di hamparan sawah Kelompok Tani Utama 5 Desa Kedungbanjar. Lahan seluas 45 hektare itu dikelola enam kelompok tani dan diperkirakan memproduksi 324 ton gabah kering panen (GKP) dengan prognosa produktivitas 7,2 ton per hektare.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan pola tanam petani sangat bergantung pada ketersediaan air. Di wilayah Pantura seperti Kedungbanjar, petani umumnya menjalankan dua kali musim tanam padi yang diselingi komoditas lain.
Sementara itu, daerah dengan irigasi lebih memadai punya peluang menjalankan tiga kali musim tanam.
“Semua petani itu sebenarnya tergantung pada air. Kalau ada air mereka pasti akan menanam padi,” kata Frans.
Pemprov Jateng menerapkan dua pendekatan berbeda untuk meningkatkan produksi. Untuk sawah tadah hujan, pemerintah mendorong pemanfaatan sistem perpompaan dan perpipaan. Sedangkan sawah irigasi dioptimalkan melalui perbaikan jaringan irigasi tersier.
“Alat-alat pertanian dan pompa kita geser ke sini. Kita juga ada dua mekanisme penanganan lahan pertanian, yaitu sawah tadah hujan dengan perpompaan dan perpipaan, kemudian sawah irigasi dengan optimalisasi jaringan irigasi tersier,” jelas Luthfi.
Bantuan yang disalurkan ke daerah sentra produksi meliputi traktor, combine harvester, pompa air, hingga benih. Selain itu, penerapan Pertanian Modern Agriculture Advance System (PMAS) menjadi bagian dari strategi intensifikasi untuk menaikkan produktivitas.
Bantuan alat mesin pertanian berdampak langsung bagi petani di tingkat lapangan. Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalbati, Petarukan, Sudirto, menuturkan sebelumnya kelompoknya harus mendatangkan mesin panen dari daerah lain. Akibatnya, panen kerap telat dan harga gabah ikut terpengaruh.
“Terima kasih atas bantuan combine harvester ini. Biasanya kami datangkan dari daerah lain. Pada musim tanam satu kami kadang telat panen karena menunggu mesin dari daerah lain. Itu juga memengaruhi harga gabah,” ungkap Sudirto.
Pemprov Jateng tidak hanya mengandalkan penyaluran alat. Pemerintah mulai membangun basis data pertanian melalui Program Pilar Jateng yang memetakan infrastruktur lahan, jaringan irigasi, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan) setiap wilayah.
Data itu diperbarui secara berkala sehingga intervensi pemerintah bisa lebih tepat sasaran.
“Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani,” ujar Frans.
Frans menambahkan, dengan produktivitas yang tinggi, dua kali musim tanam saja sudah mampu menghasilkan produksi optimal. Musim tanam ketiga dapat disesuaikan dengan keputusan petani sekaligus memberi kesempatan tanah untuk memulihkan kondisinya.