BBM Indonesia Naik, Malaysia Turun: Hitung Dampak ke Dompet Pemilik Kendaraan

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Kamis, 03 September 2026 | 13:13:01 WIB
Petugas mengisi bahan bakar kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jawa Tengah, menyusul penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina per September 2025.

JAWA TENGAH — Kabar ini kontras dengan kenyataan di dalam negeri. Pertamina baru saja menyesuaikan harga empat produk BBM non-subsidi per September 2025, dengan kenaikan paling besar mencapai Rp 4.050 untuk Pertamina Dex. Sementara di seberang, Malaysia memangkas tarif RON95, RON97, dan diesel sebesar 5 sen ringgit per liter atau setara Rp 219.

Pemilik kendaraan bermesin bensin di Indonesia yang selama ini mengandalkan Pertamax Turbo (RON 98) kini harus membayar Rp 19.600 per liter, naik dari Rp 18.300. Adapun konsumen Pertamax Green (RON 95) menanggung lonjakan lebih signifikan, dari Rp 16.600 menjadi Rp 19.150 per liter. Jika dibandingkan dengan RON95 Malaysia yang dijual Rp 16.497, selisih harga sudah sangat tipis, hanya sekitar Rp 2.650.

Angka Terkini: Berapa Harga di Masing-Masing Negara?

Kementerian Keuangan Malaysia menggunakan rumus Automatic Pricing Mechanism (APM) yang berlaku sejak 1983 untuk menentukan harga mingguan. Berdasarkan penyesuaian terbaru, berikut tarif yang berlaku:

  • Malaysia RON95: 3,77 ringgit (sekitar Rp 16.497) — turun 5 sen per liter
  • Malaysia RON97: 4,25 ringgit (sekitar Rp 18.597) — turun 5 sen per liter
  • Malaysia Diesel non-subsidi: 4,67 ringgit (sekitar Rp 20.435) — turun 5 sen per liter
  • Indonesia Pertamax Green 95: Rp 19.150 per liter — naik Rp 2.550
  • Indonesia Pertamax Turbo 98: Rp 19.600 per liter — naik Rp 1.300
  • Indonesia Dexlite: Rp 23.700 per liter — naik Rp 4.000
  • Indonesia Pertamina Dex: Rp 25.200 per liter — naik Rp 4.050

Dari daftar tersebut terlihat jelas: pembelian BBM beroktan tinggi di Indonesia kini jauh lebih mahal daripada produk setara di negeri jiran. Untuk diesel saja, selisihnya mencapai Rp 4.765 per liter.

Dampak Biaya Operasional: Harus Menelan Lebih Dalam

Bagi pemakai harian, kenaikan ini bukan angka kecil. Sebagai contoh, mobil dengan tangki 45 liter yang biasa mengisi Pertamax Turbo akan mengalami tambahan pengeluaran sekitar Rp 58.500 per pengisian penuh akibat kenaikan Rp 1.300. Dalam sebulan dengan frekuensi isi penuh lima kali, pengeluaran ekstranya mencapai Rp 292.500.

Sedangkan pemilik kendaraan diesel yang menggunakan Dexlite untuk perjalanan 1.500 km per bulan dengan konsumsi 12 km/liter, akan membutuhkan sekitar 125 liter. Artinya, biaya tambahan bulanan yang harus ditanggung mencapai Rp 500.000 lebih hanya dari selisih harga baru.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada biaya harian, tetapi juga pada sektor logistik dan transportasi umum. Operator angkutan yang selama ini mengandalkan solar non-subsidi akan merasakan tekanan lebih besar dibanding kompetitor yang masih memakai solar bersubsidi.

Alasan Penurunan di Malaysia dan Faktor Risiko yang Mengintai

Penurunan harga di Malaysia disebut terjadi karena harga minyak mentah global bergerak lebih rendah selama periode penetapan berjalan, sebagaimana tercermin dari formula APM. Namun Kementerian Keuangan Malaysia mengingatkan bahwa pasar produk minyak bumi olahan masih berada dalam kondisi pasokan yang mengetat.

Pemicunya antara lain gangguan arus minyak melalui Selat Hormuz, berkurangnya kapasitas kilang di beberapa negara, serta kebijakan pembatasan ekspor bahan bakar. Pemerintah Malaysia pun mengeluarkan imbauan agar pengendara tetap bijak memakai BBM dan menghindari perjalanan yang tidak perlu.

Bagi Indonesia yang tarifnya sudah naik, faktor-faktor tersebut tetap relevan. Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang baru diumumkan berpotensi masih belum final, mengingat harga minyak dunia yang volatil dan fluktuasi kurs rupiah. Skenario seperti ini lebih masuk akal untuk disikapi sebagai penyesuaian berkala bukan sebagai satu-satunya perubahan tahun ini.

Yang Perlu Diperhatikan Konsumen Indonesia

  • Selisih harga dengan Malaysia yang makin kecil membuat bensin beroktan 92 reguler (Pertalite) justru menjadi pilihan paling ekonomis di dalam negeri bagi kendaraan yang tidak wajib memakai RON 98.
  • Bagi pemilik mobil diesel modern yang membutuhkan kadar sulfur rendah, tidak ada pilihan selain membayar harga baru Dexlite atau Pertamina Dex yang kini menembus Rp 23.700–25.200 per liter.
  • Kenaikan ini belum tentu berdampak pada harga tarif angkutan umum, karena sebagian besar angkutan masih memakai solar bersubsidi. Namun, untuk jasa ekspedisi swasta yang memakai kendaraan non-subsidi, potensi penyesuaian tarif perlu diantisipasi.

Yang jelas, pengguna BBM non-subsidi di Indonesia selalu menjadi penyesuaian paling cepat ketika harga minyak dunia bergejolak. Belajar dari Malaysia yang memakai formula APM secara konsisten, transparansi kalkulasi harga menjadi kunci—sesuatu yang belum terlihat jelas dalam pengumuman Pertamina kali ini.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top