JAWA TENGAH — Angka ini keluar dari survei yang dilakukan perusahaan riset pasar Censuswide pada musim panas 2026. Hasilnya jadi tamparan keras bagi pabrikan yang berlomba memasang teknologi ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) sebagai daya tarik utama produk mereka. Data tersebut menunjukkan kesenjangan lebar antara apa yang dianggap produsen sebagai nilai jual, dengan kebiasaan nyata pengemudi di lapangan.
Di Indonesia, fenomena serupa hampir bisa dipastikan terjadi. Fitur seperti lane keeping assist atau adaptive cruise control kerap menjadi pembeda harga puluhan juta rupiah antar varian, tapi di jalanan macet dan padat seperti di Jakarta atau Surabaya, fungsinya memang kerap terasa sia-sia.
Dari survei yang sama, 21,3% pengemudi mengaku mematikan total fitur Autonomous Emergency Braking (AEB). Alasan utamanya seragam: sistem dinilai terlalu sensitif dan lebih sering memicu kejutan daripada mencegah tabrakan. Banyak pengemudi merasa rem mendadak aktif tanpa sebab yang jelas, terutama saat melewati tanjakan atau mendekati kendaraan di tikungan.
Fitur bantuan penjaga jalur atau lane keeping assist juga bernasib mirip. Hampir 18% responden tidak pernah menggunakannya. Keluhan yang muncul biasanya soal getaran pada setir yang dianggap mengganggu, atau koreksi jalur yang terasa paksa saat pengemudi sedang bermanuver menghindari lubang.
Fakta lain yang tak kalah penting: 7% pemilik mobil dengan adaptive cruise control mengaku tidak tahu cara menggunakannya. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan selalu pada teknologi, melainkan minimnya edukasi dari dealer atau pabrikan saat penyerahan unit. Buku manual yang tebal tidak cukup jika tidak dijelaskan langsung dengan praktik.
Fenomena ini juga membuka ruang diskusi bagi calon pembeli di Indonesia. Sebelum mengeluarkan uang ekstra untuk varian tertinggi yang sarat fitur keselamatan, pastikan Anda benar-benar akan memakainya. Fitur yang tidak pernah diaktifkan hanyalah biaya yang mengendap, bukan investasi keselamatan.
Bagi yang sedang mempertimbangkan membeli mobil dengan fitur ADAS lengkap, ada beberapa catatan penting:
Kesimpulannya, teknologi canggih di mobil modern bukanlah hal buruk. Namun, survei ini menjadi pengingat bahwa pabrikan perlu bekerja lebih keras untuk memastikan penggunanya paham dan percaya pada fitur yang mereka jual. Untuk konsumen, keputusan membeli harus berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar daftar fitur yang tampak mengesankan di atas kertas.