Fitur Canggih Mobil Jarang Dipakai: Studi Ungkap 25,9% Pengemudi Tak Pernah Sentuh Adaptive Cruise Control

Penulis: Yanto Prasetya  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:50:01 WIB
Survei Censuswide mencatat 25,9 persen pengemudi tidak pernah menggunakan fitur adaptive cruise control pada mobilnya.

JAWA TENGAH — Angka ini keluar dari survei yang dilakukan perusahaan riset pasar Censuswide pada musim panas 2026. Hasilnya jadi tamparan keras bagi pabrikan yang berlomba memasang teknologi ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) sebagai daya tarik utama produk mereka. Data tersebut menunjukkan kesenjangan lebar antara apa yang dianggap produsen sebagai nilai jual, dengan kebiasaan nyata pengemudi di lapangan.

Di Indonesia, fenomena serupa hampir bisa dipastikan terjadi. Fitur seperti lane keeping assist atau adaptive cruise control kerap menjadi pembeda harga puluhan juta rupiah antar varian, tapi di jalanan macet dan padat seperti di Jakarta atau Surabaya, fungsinya memang kerap terasa sia-sia.

Pengereman Darurat Otomatis Paling Sering Dimatikan Total

Dari survei yang sama, 21,3% pengemudi mengaku mematikan total fitur Autonomous Emergency Braking (AEB). Alasan utamanya seragam: sistem dinilai terlalu sensitif dan lebih sering memicu kejutan daripada mencegah tabrakan. Banyak pengemudi merasa rem mendadak aktif tanpa sebab yang jelas, terutama saat melewati tanjakan atau mendekati kendaraan di tikungan.

Fitur bantuan penjaga jalur atau lane keeping assist juga bernasib mirip. Hampir 18% responden tidak pernah menggunakannya. Keluhan yang muncul biasanya soal getaran pada setir yang dianggap mengganggu, atau koreksi jalur yang terasa paksa saat pengemudi sedang bermanuver menghindari lubang.

Masalah Utama: Bukan Fiturnya, Tapi Sosialisasi ke Pengguna

Fakta lain yang tak kalah penting: 7% pemilik mobil dengan adaptive cruise control mengaku tidak tahu cara menggunakannya. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan selalu pada teknologi, melainkan minimnya edukasi dari dealer atau pabrikan saat penyerahan unit. Buku manual yang tebal tidak cukup jika tidak dijelaskan langsung dengan praktik.

Fenomena ini juga membuka ruang diskusi bagi calon pembeli di Indonesia. Sebelum mengeluarkan uang ekstra untuk varian tertinggi yang sarat fitur keselamatan, pastikan Anda benar-benar akan memakainya. Fitur yang tidak pernah diaktifkan hanyalah biaya yang mengendap, bukan investasi keselamatan.

Yang Perlu Diperhatikan Calon Pembeli

Bagi yang sedang mempertimbangkan membeli mobil dengan fitur ADAS lengkap, ada beberapa catatan penting:

  • Uji coba fitur wajib dilakukan saat test drive, bukan hanya melihat brosur. Rasakan sendiri seberapa sensitif sistem pengereman darurat di jalanan kita.
  • Tanyakan cara kerja detail ke sales — termasuk cara mengatur jarak pada adaptive cruise control dan cara menonaktifkan sementara lane keeping assist jika terasa mengganggu.
  • Perhatikan biaya perawatan jangka panjang. Mobil dengan ADAS biasanya punya sensor dan kamera yang biaya kalibrasinya mahal jika rusak atau setelah pergantian kaca depan.
  • Pilih fitur yang sesuai kebutuhan. Jika mayoritas perjalanan dilakukan di dalam kota dengan kemacetan parah, fitur seperti blind spot monitoring mungkin lebih berguna dibanding adaptive cruise control yang baru terasa manfaatnya di jalan tol.

Kesimpulannya, teknologi canggih di mobil modern bukanlah hal buruk. Namun, survei ini menjadi pengingat bahwa pabrikan perlu bekerja lebih keras untuk memastikan penggunanya paham dan percaya pada fitur yang mereka jual. Untuk konsumen, keputusan membeli harus berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar daftar fitur yang tampak mengesankan di atas kertas.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: otomotif.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top