3,49 Juta Pemuda Miskin di Jawa Tengah Jadi Sasaran Program Baru, Bukan Bantuan Tunai tapi Pelatihan dan Modal Usaha

Penulis: Yanto Prasetya  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:41:01 WIB
Peluncuran program pemberdayaan pemuda di Kelurahan Semanggi, Surakarta, Rabu (19/8/2026).

SURAKARTA — Pilot project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda resmi diluncurkan di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Rabu (19/8/2026). Program ini menyasar warga berusia 16-30 tahun yang masuk kelompok desil 1 hingga 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Januari 2026.

Angka sasarannya besar: 3.493.309 pemuda di Jawa Tengah. Namun uji coba awal hanya menyentuh delapan lokasi, yakni Kelurahan Semanggi, Nusukan, dan Mojosongo di Kota Surakarta; Desa Winduaji di Kabupaten Brebes; Desa Belik dan Mendelem di Kabupaten Pemalang; Desa Rejosari di Kabupaten Demak; serta Desa Ngawen di Kabupaten Blora.

Bantuan Baru Cair Setelah Asesmen dan Pelatihan

Taj Yasin menegaskan pola pemberian bantuan dalam program ini berbeda dari skema bansos biasa. Setiap kelompok penerima manfaat wajib melewati asesmen terlebih dahulu untuk memetakan kebutuhan, pengalaman, dan potensi usaha yang dimiliki.

"Bantuan ini tidak langsung diberikan. Kita asesmen dulu. Kebutuhannya apa? Kelompok tersebut sudah punya pengalaman apa? Kita berikan pelatihan dulu, kita berikan pendampingan dulu," ujarnya.

Menurut Taj Yasin, pendekatan ini dipilih agar bantuan pemerintah tidak habis tanpa jejak. Harapannya, dana yang disalurkan berkembang menjadi aktivitas produktif yang menaikkan pendapatan keluarga.

Anggaran yang Disiapkan untuk Delapan Lokasi

Pemprov Jateng mengalokasikan sejumlah intervensi untuk mendukung pilot project ini, meliputi:

  • Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) senilai Rp145 juta
  • Bantuan modal Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Rp480 juta untuk 24 kelompok dan UEP Rp240 juta
  • Dukungan KUBE dari Bank Jateng senilai Rp600 juta plus pelatihan dasar
  • Mobile Training Unit (MTU) senilai Rp134,594 juta dan pelatihan Hetero Business Leap (HBL) Rp7,98 juta
  • Kartu Jateng Ngopeni Rp105,6 juta, BLT DBHCHT Rp436,8 juta, dan bantuan pendidikan BSM Rp73 juta
  • Bantuan RTLH Rp260 juta, jamban Rp675,22 juta, instalasi listrik Rp49,5 juta, serta benih ikan nila merah Rp13,5 juta

Mengapa Pemuda Jadi Sasaran Utama?

Taj Yasin beralasan, kelompok usia 16-30 tahun punya kapasitas paling besar untuk mengembangkan usaha dan memperluas pasar, terutama lewat kanal digital. "Ekspansi ekonomi saat ini sudah tidak lagi ada di tokonya. Mereka sudah naik level," katanya.

Ia juga mengingatkan pemerintah daerah di delapan lokasi untuk mengawal program secara berkelanjutan. Usaha yang sudah diberikan harus dipantau agar tumbuh, bukan berhenti di tahap serah terima.

Respons Pemkot Surakarta

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyambut baik model ini. Menurutnya, pengentasan kemiskinan tidak cukup lewat bantuan sosial semata; masyarakat perlu dibekali kemampuan agar mandiri.

"Kita semua ingin pemuda tidak hanya menjadi penerima manfaat tetapi menjadi pelaku pembangunan yang memiliki keterampilan, pekerjaan atau usaha, penghasilan dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya," kata Astrid.

Ia berharap pilot project ini tidak berhenti pada peluncuran. Pendampingan dan kolaborasi berkelanjutan diperlukan agar model ini bisa direplikasi di daerah lain di Jawa Tengah.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: mettanews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top