BNPB Catat 2.119 Gempa Susulan Guncang NTT, Warga Mengungsi Trauma dan Tak Berani Tidur di Rumah

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:32:01 WIB
Warga mengungsi di tenda darurat di Reo, Manggarai, NTT, setelah gempa susulan terus mengguncang wilayah tersebut.

JAWA TENGAH — Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan pola peluruhan gempa susulan belum terlihat jelas. Kondisi ini diperkirakan baru mulai stabil dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

"Aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Diperkirakan kondisi ini akan mulai stabil dalam 2 sampai 3 minggu ke depan," jelas Berton kepada awak media.

24 Gempa Susulan Berkekuatan di Atas Magnitudo 5

Dari total ribuan getaran tersebut, sebanyak 24 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo di atas 5. Sementara itu, 70 gempa susulan lainnya dirasakan kuat oleh masyarakat. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil mencapai magnitudo 1,3.

"Di atas magnitudo 5 ada 24 kali, sedangkan gempa susulan yang dirasakan sebanyak 70 kali," ungkap Berton.

Kesaksian Warga: "Kami Jadi Berteman dengan Gempa"

Fitri Tuti Darwanti (36) adalah salah satu dari ribuan warga yang memilih bertahan di tenda darurat. Empat malam terakhir, ia bersama suami dan dua anaknya tidur berhimpitan di tenda beratapkan terpal hijau di Kota Reo, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Jaraknya tak jauh dari rumah mereka yang kini dianggap terlalu berisiko untuk ditinggali.

Bagi Fitri, malam adalah waktu paling menakutkan. Kegelapan dan listrik yang kerap padam membuat rasa waspada meningkat. Para bapak-bapak bergantian berjaga sambil minum kopi di dekat api unggun, sementara ibu-ibu berbaring mendampingi anak-anak mereka.

"Kami sedih, takut, trauma, campur aduk. Mau masuk ke dalam rumah sendiri yang kami tinggali sehari-hari saja takut, takut tiba-tiba runtuh karena gempa selalu kunjungi kami setiap saat," cerita Fitri kepada Liputan6.com.

Menurut Fitri, getaran susulan terasa hampir setiap menit. Warga mulai terbiasa dengan kondisi tersebut, meski rasa takut belum juga hilang. "Gempa hampir tiap menit. Istilahnya kami jadi berteman dengan gempa," katanya.

Korban Jiwa Capai 70 Orang, Pencarian Korban Hilang Dihentikan

Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, melaporkan total korban yang telah dikompilasi hingga Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA mencapai 202 orang. Rinciannya, 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka—40 di antaranya luka berat dan 92 lainnya luka ringan.

Memasuki hari keempat penanganan, Basarnas memutuskan untuk tidak lagi menerima laporan pencarian warga yang hilang. Tim SAR kini memfokuskan kegiatan pada penyisiran wilayah terdampak serta membantu proses pencarian dan pemulihan yang dilakukan BNPB.

"Keputusan ini diambil setelah tidak ada lagi laporan mengenai warga yang hilang atau masih dalam pencarian dari masyarakat di wilayah terdampak," ujar Yudhi.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top