SEMARANG — Misa bulanan di Capel Sambeng berlangsung berbeda pada Sabtu (8/8/2026). Sejumlah mahasiswa Muslim dari KKN UIN Walisongo turut hadir di tengah jemaat, bukan sebagai tamu seremonial, melainkan untuk belajar bagaimana warga Dusun Sambeng hidup berdampingan dalam perbedaan.
Misa dipimpin Romo Sigit dari Gereja Girisonta, Karangjati. Ia rutin mendapat tugas memimpin perayaan Ekaristi di Capel Sambeng satu kali dalam sebulan. Kehadiran para mahasiswa KKN itu disambut terbuka oleh Romo Sigit.
Romo Sigit menilai keberagaman keyakinan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Menurutnya, sikap saling membantu dan menghargai adalah wujud nyata dari karakter kebangsaan.
“Orang yang beragama menunjukkan karakter tertentu untuk bisa saling membantu dan tolong-menolong dalam kehidupan berbangsa,” ujar Romo Sigit.
Ia mengaku tumbuh dalam lingkungan keluarga besar yang mayoritas Muslim, baik dari pihak ayah maupun ibunya. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain bukanlah hal asing, melainkan keseharian yang wajar di Jawa Tengah.
Romo Sigit menilai lingkungan masyarakat di Semarang, termasuk Dusun Sambeng, turut mendukung terciptanya kehidupan yang toleran. Hubungan antarwarga yang terbangun baik menjadi fondasi utama, bukan sekadar klaim simbolis.
Bagi mahasiswa KKN, pengalaman ini menjadi pelajaran lapangan yang tidak didapat di bangku kuliah. Menghadiri ibadah umat lain secara langsung memberi perspektif baru tentang praktik kerukunan yang berjalan tanpa paksaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program KKN MIT-22 Posko 18 yang tidak hanya fokus pada pemberdayaan masyarakat, tetapi juga penguatan moderasi beragama. Dusun Sambeng menjadi contoh nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi warga untuk hidup rukun dan saling menghormati.