WONOSOBO — Kabupaten Wonosobo tidak hanya dikenal karena keindahan panorama alamnya. Di balik itu, daerah ini memegang peranan taktis dan strategis dalam panggung sejarah pergerakan serta pertahanan kemerdekaan Republik Indonesia. Kondisi geografis yang didominasi perbukitan menjadikan Wonosobo benteng pertahanan alami sekaligus pusat komando gerilya, baik untuk militer maupun pemerintahan sipil.
Sejarah perlawanan lokal di Wonosobo telah mengakar sejak era pascaperang Jawa. Staf Pengolahan Pustaka Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Wonosobo, Ripto Hartanto, mengungkapkan bahwa perlawanan dimulai dari tokoh legendaris KRT Selomanik, salah satu pengikut setia Kanjeng Pangeran Haryo Blitar dari Surakarta yang konsisten menolak intervensi kolonial Belanda.
Ripto menuturkan, Pangeran Blitar mengembara ke arah timur hingga Blora. Adapun KRT Selomanik, pengikut setianya, justru memusatkan perlawanan di wilayah Wonosobo.
"Namun, medan perjuangannya membentang luas hingga ke Banjarnegara," imbuhnya saat ditemui di kantornya, Senin (10/8/2026).
Meski makam KRT Selomanik berada di Wonosobo, jejak perjuangannya diabadikan melalui Monumen Serulingmas di Banjarnegara. Dinamika kewilayahan era Perang Jawa terekam dalam Babad Kedung Kebo, di mana Kadipaten Bagelen kala itu berada di bawah pengawasan Pangeran Kusumoyudo dari Kasunanan Surakarta.
Tangan kanannya yang semula seorang penarik pajak berhasil menumpas perlawanan terhadap Belanda hingga diangkat menjadi Adipati Cokronegoro I. Sosok ini kemudian memindahkan pusat pemerintahan Bagelen ke Kedung Kebo yang kini dikenal sebagai Kabupaten Purworejo.
Memasuki masa Agresi Militer Belanda II, Wonosobo menjadi target utama serangan tentara kolonial. Pasukan Belanda membagi kekuatannya ke dalam lima jalur serangan atau kolona dengan tugas berbeda.
Kolona I bertugas menyerang Yogyakarta untuk menawan pimpinan negara, sedangkan Kolona II di bawah Jenderal Spoor bergerak ke Surakarta. Selanjutnya, Kolona III yang dipimpin Mayor Jenderal Marinir dikerahkan dari Blora untuk mengejar Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Sementara itu, Kolona IV bergerak menuju Purworejo dan Magelang. Adapun Kolona V dikhususkan untuk menggempur pertahanan Banjarnegara dan Wonosobo.
Di tengah gempuran tersebut, Wonosobo justru menjadi simpul krusial pergerakan pasukan TNI. Ripto menjelaskan, Pasukan Brigade Siliwangi di bawah Letkol Sadikin dan Batalyon pimpinan Kapten Poniman melakukan long march menembus jalur selatan Wonosobo seperti Kaliwiro.
Perjalanan kaki untuk kembali ke basis di Jawa Barat tersebut memakan waktu hingga 40 hari dengan menyusuri lereng utara Gunung Slamet. Rute ini dipilih karena kondisi geografis Wonosobo yang berat dinilai mampu mengelabui pengejaran tentara kolonial.
Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa Wonosobo bukan sekadar daerah penyangga, melainkan aktor penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jejak perjuangan tersebut kini menjadi warisan yang terus dijaga melalui berbagai monumen dan catatan kearsipan daerah.