JAWA TENGAH — Agustiar Sabran memulai pembangunan fisik Huma Betang yang berlokasi di kawasan perkantoran Gubernur Kalteng. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa rumah betang bukan sekadar bangunan fisik, melainkan representasi semangat gotong royong dan filosofi hidup masyarakat Dayak. Proyek ini ditargetkan rampung dalam dua tahun ke depan.
Rumah betang secara tradisional merupakan hunian komunal suku Dayak yang mencerminkan kebersamaan dan musyawarah. Agustiar ingin menghidupkan kembali nilai-nilai itu melalui Huma Betang yang akan difungsikan sebagai museum budaya, pusat pertunjukan seni, dan ruang dialog antar komunitas.
"Kami tidak hanya membangun tembok, tetapi menghidupkan kembali jiwa masyarakat Dayak yang selama ini mulai luntur," ujar Agustiar dalam seremoni peletakan batu pertama.
Pemerintah Provinsi Kalteng mengalokasikan dana sebesar Rp 85 miliar untuk pembangunan Huma Betang yang dirancang oleh arsitek lokal. Tahap pertama mencakup pembangunan struktur utama seluas 2.500 meter persegi yang akan diikuti dengan pengadaan koleksi etnografi dan instalasi seni kontemporer.
Proyek ini melibatkan langsung dewan adat Dayak dan tokoh masyarakat dalam setiap tahap perencanaan. Agustiar memastikan bahwa desain bangunan tetap mengikuti pakem arsitektur tradisional rumah betang, termasuk penggunaan material kayu ulin khas Kalimantan.
Pemerintah menargetkan Huma Betang menjadi destinasi wisata edukasi unggulan di Kalteng. Selain sebagai museum, kompleks ini akan dilengkapi dengan bengkel kerajinan tangan, galeri tenun, dan panggung pertunjukan musik sape'. Dinas Pariwisata setempat memperkirakan tempat ini mampu menarik 200 ribu pengunjung per tahun.
Agustiar menambahkan bahwa Huma Betang juga akan menjadi pusat inkubasi ekonomi kreatif bagi generasi muda Dayak. "Anak-anak muda bisa belajar menenun, memahat, atau memainkan alat musik tradisional di sini. Ini investasi jangka panjang untuk keberlanjutan budaya," katanya.
Ketua Dewan Adat Dayak Kalteng, Yansen, menyambut positif langkah ini. Menurutnya, pembangunan Huma Betang sudah lama dinantikan sebagai wadah dokumentasi dan transmisi pengetahuan adat kepada generasi milenial dan Gen Z. Namun, ia mengingatkan agar pengelolaan ke depan tidak terjebak pada komersialisasi berlebihan.
"Yang paling sulit bukan membangun gedung, tapi menghidupkan isinya. Kami butuh kurator dan pemandu yang benar-benar paham filosofi Dayak," kata Yansen. Pemerintah berencana merekrut tenaga ahli dari Universitas Palangka Raya dan komunitas pegiat budaya untuk mengisi program-program di Huma Betang.