57 Hektare Sawah di Salatiga Terancam Kekeringan, Dispangtan Petakan 2 Kecamatan Rawan Puso

Penulis: Yanto Prasetya  •  Kamis, 23 Juli 2026 | 15:07:44 WIB
hektare sawah di Salatiga terancam kekeringan, dengan wilayah terluas di Kecamatan Sidorejo mencapai 45 hektare.

SALATIGA — Ancaman kekeringan mulai membayangi lahan pertanian di Kota Salatiga. Dispangtan setempat mengidentifikasi 57 hektare sawah yang rentan mengalami kekeringan selama musim kemarau tahun ini. Wilayah terluas berada di Kecamatan Sidorejo, mencakup 45 hektare, disusul Kecamatan Tingkir seluas 12 hektare.

Eny Endang Surtiani mengatakan, kondisi pertanaman di Kota Salatiga secara umum masih terkendali. Sebagian besar lahan sawah baru menyelesaikan masa panen atau berada di penghujung Musim Tanam I (MT I), sehingga dampak kekeringan belum terasa signifikan.

“Secara umum kondisi pertanaman masih terkendali. Namun, penurunan debit air di saluran irigasi sekunder dan tersier mulai terlihat sehingga petani perlu segera menyesuaikan pola tanam,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Pemetaan Berdasarkan Riwayat Debit Air dan Sumber Air Permukaan

Pemetaan wilayah rawan kekeringan dilakukan Dispangtan sebagai tindak lanjut koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Hasil identifikasi didasarkan pada riwayat debit air, ketersediaan sumber air permukaan, serta tingkat ketergantungan lahan terhadap irigasi tadah hujan.

Meski ancaman kekeringan sudah terpetakan, Dispangtan menilai potensi gagal panen secara luas masih relatif rendah. Petani di wilayah rawan telah diedukasi agar tidak memaksakan menanam padi pada Musim Tanam II yang membutuhkan pasokan air tinggi.

“Gagal panen yang fatal diperkirakan hanya terjadi pada titik-titik tertentu apabila petani terlambat mengantisipasi penurunan debit air atau tetap menanam varietas padi berumur panjang tanpa dukungan pompa air,” terang Eny.

Komoditas Paling Rentan: Padi Sawah Varietas Konvensional

Komoditas yang paling rentan terdampak musim kemarau adalah padi sawah varietas konvensional. Kekurangan air pada fase pengisian bulir dapat menyebabkan tanaman mengalami puso. Selain itu, tanaman hortikultura seperti sawi dan bayam juga berpotensi mengalami penurunan kualitas dan bobot akibat tingginya tingkat penguapan.

Pemkot Salatiga telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Gerakan pompanisasi dengan memanfaatkan air sungai dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) mulai digencarkan. Edukasi penyesuaian kalender tanam melalui Kalender Tanam (Katam) juga diberikan, termasuk mendorong petani beralih ke komoditas yang lebih tahan kekeringan seperti jagung, palawija, dan sorgum, atau menggunakan varietas padi genjah.

Perbaikan Jaringan Irigasi dan Pemantauan Berkelanjutan

Pemerintah terus berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk memperbaiki jaringan irigasi. Tujuannya, distribusi air ke lahan pertanian lebih optimal dan kehilangan air akibat kebocoran saluran bisa diminimalkan.

“Kami memastikan pemantauan kondisi lahan akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Hingga saat ini, belum ada laporan lahan pertanian di Kota Salatiga yang mengalami puso akibat kekeringan, namun petani diminta tetap waspada apabila curah hujan terus menurun dalam beberapa pekan ke depan,” pungkas Eny.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: lingkarjateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top