Siswa SD asal Boyolali, Ibrahim, Raih Surat Penghargaan NASA Berkat Komputer Bekas dan Rasa Ingin Tahu Tinggi

Penulis: Usman Harun  •  Senin, 20 Juli 2026 | 10:35:00 WIB
Ibrahim, siswa SD asal Boyolali, menerima surat penghargaan dari NASA atas data astronomi yang dikirimkannya menggunakan komputer bekas.

BOYOLALI — Ibrahim, siswa SD asal Boyolali, Jawa Tengah, menorehkan prestasi membanggakan dengan mendapatkan surat penghargaan dari NASA. Pengakuan dari badan antariksa Amerika Serikat itu ia raih berkat ketekunannya mengamati dan mendokumentasikan fenomena langit menggunakan komputer bekas di rumahnya.

Kisah Ibrahim menjadi bukti bahwa keterbatasan perangkat bukanlah halangan untuk meraih pencapaian di tingkat global. Rasa ingin tahunya yang tinggi terhadap ilmu astronomi mendorongnya untuk terus belajar secara otodidak.

Bermodal Komputer Bekas, Ibrahim Kirim Data ke NASA

Ibrahim menggunakan komputer bekas pemberian keluarganya untuk mengakses berbagai situs astronomi. Ia kemudian mengirimkan data hasil pengamatan dan analisisnya ke portal sains NASA yang menerima partisipasi dari publik.

Surat penghargaan yang dikirimkan oleh NASA menjadi bukti bahwa data yang dikirimkan Ibrahim memenuhi standar observasi ilmiah. Prestasi ini sontak menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolah dan kampung halamannya di Boyolali.

Dukungan Keluarga Jadi Kunci di Tengah Keterbatasan

Meski tidak memiliki perangkat canggih seperti teleskop modern, Ibrahim memaksimalkan komputer bekasnya untuk mengolah data dan gambar dari berbagai sumber daring. Keluarganya mengaku bangga dan terus mendukung minat Ibrahim di bidang sains.

Pihak sekolah pun memberikan apresiasi khusus. Guru-guru di SD tempat Ibrahim belajar menilai bahwa prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi siswa lain untuk mengejar mimpi tanpa terhalang kondisi ekonomi.

Apa Langkah Ibrahim Selanjutnya?

Setelah menerima penghargaan dari NASA, Ibrahim berencana untuk terus memperdalam pengetahuannya tentang astronomi. Ia berharap bisa memiliki perangkat yang lebih memadai untuk melakukan observasi secara mandiri dari halaman rumahnya.

Kisah Ibrahim di Boyolali ini menjadi pengingat bahwa bakat dan kerja keras bisa menembus batas geografis dan keterbatasan materi. Prestasinya diakui oleh lembaga antariksa paling bergengsi di dunia hanya dengan bermodal komputer bekas dan koneksi internet sederhana.

Reporter: Usman Harun
Sumber: trends.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top