SEMARANG — Sorotan tajam datang dari Komisi V DPR RI saat meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Rowosari, Kota Semarang, Jumat (17/7/2026). Anggota Komisi V Novita Wijayanti menemukan sejumlah aspek infrastruktur yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa, salah satunya kondisi tangga yang belum dilengkapi pengaman.
Dalam peninjauan tersebut, Novita secara spesifik menyoroti area tangga yang dinilainya rawan kecelakaan. Ia meminta kontraktor segera memasang railing atau marka keselamatan sebelum sekolah beroperasi penuh.
"Tadi ada tangga-tangga yang menurut saya juga berisiko membahayakan. Entah itu harus dikasih railing, entah itu dikasih tanda. Jangan sampai enggak kelihatan, anak-anak lari-lari terus jatuh," ungkap Novita saat memberikan arahan di hadapan Dinas Sosial Kota Semarang, Dinas Pekerjaan Umum, serta jajaran Sekolah Rakyat Rowosari.
Tidak hanya tangga, Novita juga meminta perhatian serius terhadap ketersediaan utilitas dasar. Ia mengecek langsung sejumlah fasilitas dan menemukan beberapa hal yang perlu dibenahi sebelum serah terima proyek.
“Ketersediaan air itu tolong dicek betul. Kemudian listriknya, gensetnya, CCTV-nya juga tolong dipasang karena ngurusin anak sekolah, apalagi anak yang remaja juga perlu memonitor yang ekstra,” tegasnya.
Politikus perempuan itu bahkan menyoroti detail kecil di toilet yang kerap terlewat. "Terus tadi saya ke toilet, mohon ada cermin di situ. Sudah ada wastafel, ini memang kecil-kecil sih, karena perempuan ya jadi agak detail. Jadi cermin juga penting, Pak Ketua," ujarnya.
Novita menegaskan, sebagai BUMN yang dipercaya mengerjakan proyek bernilai besar, PT Adhi Karya harus menjamin hasil pembangunan memenuhi standar kualitas. Ia mengingatkan agar tenggat waktu tidak dijadikan alasan untuk bekerja asal-asalan.
“Untuk Adhi Karya ya, Bapak sudah mendapatkan pekerjaan yang besar dan dipercaya oleh pemerintah untuk membangun gedung dengan anggaran yang tidak sedikit. Mohon sekali ini harus berkualitas. Walaupun dikejar waktu, jangan asal-asalan. Saat nanti diserahkan, bangunan harus benar-benar dalam kondisi yang sempurna,” tegas Novita.
Meski memberikan banyak catatan, Novita mengapresiasi fasilitas yang sudah tersedia. Ia berharap kualitas bangunan dapat dipertahankan melalui perawatan rutin agar tidak cepat rusak. “Semuanya sih sudah bagus, yang kita pikirkan memang maintenance-nya ini. Mudah-mudahan dengan kualitas yang bagus, tidak ada kerusakan-kerusakan yang signifikan di kemudian hari,” pungkasnya.