JAWA TENGAH — Program yang dipamerkan kepada Reuters ini memungkinkan instruktur untuk merasakan berbagai skenario lalu lintas dalam lingkungan virtual. Dengan headset VR, mereka bisa berlatih menghadapi situasi kompleks seperti pengemudi agresif, pejalan kaki mendadak, atau kondisi jalan licin, yang sulit dihadirkan secara konsisten dalam pelatihan konvensional.
Tidak seperti metode lama yang hanya mengandalkan observasi dari kursi penumpang, VR memberikan perspektif langsung dari kursi pengemudi. Instruktur pelatih bisa mengulang skenario tertentu berkali-kali hingga mahir, tanpa harus mengkhawatirkan keselamatan atau ketersediaan mobil.
AA menyebut teknologi ini membantu mengukur respons dan pengambilan keputusan calon instruktur secara objektif. Data dari sesi VR kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki sebelum mereka benar-benar mengajar di jalan raya.
Dengan VR, ruang kelas dan kabin mobil seolah menyatu. Materi teori tentang teknik mengemudi defensif bisa langsung dipraktikkan dalam simulasi. Ini membuat proses belajar lebih efisien dan mengurangi waktu yang dihabiskan di jalan untuk latihan dasar.
Program ini merupakan bagian dari upaya AA untuk meningkatkan standar keselamatan berkendara di Inggris. Dengan instruktur yang lebih terlatih, diharapkan kualitas pendidikan mengemudi bagi pengguna jalan baru juga ikut naik.
Inovasi ini muncul di tengah meningkatnya kebutuhan akan instruktur mengemudi yang kompeten. Metode VR memungkinkan sekolah mengemudi untuk melatih lebih banyak instruktur dalam waktu lebih singkat, tanpa harus menyediakan armada mobil dalam jumlah besar.
Teknologi serupa sebenarnya sudah mulai diterapkan di beberapa sekolah mengemudi di Indonesia, meski masih dalam skala terbatas. Penerapan VR untuk pelatihan instruktur seperti yang dilakukan AA bisa menjadi tolok ukur bagi pengembangan kurikulum pelatihan mengemudi yang lebih modern di dalam negeri.