Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Integrasi Life Skills untuk ABK ke Kurikulum Sekolah Inklusif

Penulis: Usman Harun  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 20:52:02 WIB
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menyampaikan integrasi life skills ke kurikulum sekolah inklusif di Semarang.

SEMARANG — Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menilai pendidikan inklusif di daerah perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih aplikatif. Menurutnya, orientasi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak boleh berhenti pada nilai rapor, melainkan harus membekali mereka dengan kemampuan bertahan hidup sehari-hari.

Keterampilan Hidup Lebih Penting dari Sekadar Nilai Akademik

Heri menjelaskan, kurikulum yang ada saat ini perlu dimodifikasi agar mencakup pelatihan komunikasi, pengelolaan diri, literasi digital dasar, hingga keterampilan vokasional. Semua ini disesuaikan dengan potensi dan hasil asesmen masing-masing peserta didik.

“Pendidikan harus membantu setiap anak berkembang sesuai potensinya. Bagi anak berkebutuhan khusus, keterampilan hidup menjadi bekal penting agar mereka lebih mandiri, percaya diri dan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi,” ungkapnya dalam keterangan yang diterima di Semarang, baru-baru ini.

Peluang Jawa Tengah Menjadi Pelopor Inklusivitas

Pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen telah membuka ruang bagi sekolah inklusif untuk melakukan penyesuaian capaian pembelajaran. Heri menilai, kebijakan ini harus disambut dengan aksi konkret di tingkat provinsi, terutama dalam peningkatan kapasitas guru dan penyusunan modul life skills yang terstruktur.

Menurut politisi tersebut, target akhir dari pendidikan inklusif bukan sekadar kelulusan. “Tujuan akhirnya bukan hanya kelulusan sekolah, tetapi bagaimana anak-anak ini mampu hidup lebih mandiri dan memiliki peluang untuk berkarya sesuai kemampuan yang mereka miliki,” katanya.

Relevansi di Tengah Perubahan Dunia Kerja

Heri menambahkan, urgensi pengembangan life skills semakin terasa di tengah percepatan teknologi dan perubahan pasar kerja. Ia meyakini, Jawa Tengah bisa menjadi daerah terdepan dalam hal ini jika penguatan kurikulum, pelatihan guru, dan dukungan keterampilan hidup dilakukan secara konsisten.

“Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas harus bersifat inklusif. Tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena memiliki kebutuhan yang berbeda. Justru keberagaman itulah yang harus menjadi kekuatan dalam membangun masa depan daerah,” pungkasnya.

Heri berharap, pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah segera merumuskan program riil yang mengintegrasikan life skills ke dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah inklusif. Langkah ini dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 yang benar-benar inklusif.

Reporter: Usman Harun
Sumber: indoraya.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top