Dalam ajang Build 2026, raksasa teknologi asal Redmond itu tidak hanya memamerkan alat baru, tetapi juga menyusun peta jalan yang lebih jelas bagi para pengembang pihak ketiga. Fokus utama mereka adalah memastikan aplikasi yang berjalan di Windows 11 tidak lagi sekadar "bungkus" dari kode web, melainkan benar-benar memanfaatkan kemampuan perangkat keras dan sistem operasi secara optimal.
Microsoft memperkenalkan sejumlah alat untuk mempermudah migrasi ke WinUI 3. Salah satu yang paling menarik adalah plugin agen khusus untuk GitHub Copilot dan Claude Code. Plugin ini dirancang sebagai agen AI yang secara default sudah "melek" WinUI, sehingga tidak memberikan hasil kode generik yang tidak optimal seperti model AI biasa.
Dalam sesi bertajuk "Use agents to build WinUI 3 apps", Beth Pan dan Nikola Metulev menjelaskan bagaimana agen ini bisa membantu developer membuat aplikasi baru, memperbaiki aplikasi yang sudah ada, serta memigrasikan aplikasi lawas ke tumpukan antarmuka Windows terbaru. Microsoft juga menyediakan template WinUI 3 (masih dalam tahap pratinjau) untuk mempercepat proses pembuatan aplikasi native.
Sesi lain di Build 2026 secara khusus membahas modernisasi aplikasi dengan bantuan AI. Microsoft menekankan bahwa proses ini jauh lebih kompleks dari sekadar menulis ulang baris kode. "Modernisasi aplikasi bukan sekadar menulis ulang kode—ini tentang mengurai ketergantungan, melacak aliran data, dan membuat perubahan tanpa merusak sistem produksi," demikian bunyi deskripsi sesi tersebut.
Pendekatan ini menjadi krusial mengingat banyak aplikasi enterprise yang sudah berumur puluhan tahun dan memiliki kode yang sangat kompleks. AI, dalam konteks ini, berfungsi sebagai pemandu yang cerdas—bukan sekadar generator kode instan.
Untuk mendukung beban kerja AI yang berat, Microsoft juga mengumumkan Surface Laptop Ultra di ajang Computex, yang jelas turut dipromosikan di Build. Laptop ini adalah perangkat Surface pertama yang dibangun di atas platform NVIDIA RTX Spark, menggabungkan prosesor N1x (20-core Arm), GPU RTX dengan hingga 6.144 core, dan memori terpadu.
Dengan konfigurasi RAM hingga 128GB, perangkat ini mampu menghasilkan daya komputasi AI hingga 1 petaflop. "Laptop ini bisa menangani aplikasi kreatif dan bahkan game, tetapi yang lebih penting, ini adalah langkah Microsoft untuk memenangkan hati para developer," tulis Sean Endicott dari Windows Central. Meski demikian, Microsoft belum mengumumkan ketersediaan perangkat ini di pasar Indonesia.
Dorongan terhadap aplikasi native ini secara langsung berdampak pada pengalaman pengguna sehari-hari. Aplikasi native umumnya lebih responsif, lebih hemat baterai, dan lebih terintegrasi dengan fitur sistem seperti Snap Layouts atau Widgets. Bagi pengguna Windows 11 di Indonesia yang kerap mengeluhkan aplikasi lambat atau boros RAM, pergeseran ini bisa menjadi kabar baik—meskipun hasilnya baru akan terasa dalam satu hingga dua tahun ke depan, saat ekosistem developer mulai benar-benar beralih.