BOYOLALI — Lima stupa yang terbuat dari batu andesit itu ditemukan dalam kondisi tidak utuh saat tim melakukan survei permukaan di area persawahan warga. Stupa-stupa tersebut memiliki ukiran relief khas masa klasik Hindu-Buddha, dengan motif sulur dan bunga teratai yang masih bisa dikenali. Keberadaan stupa dalam jumlah banyak di satu lokasi menjadi indikator kuat bahwa kawasan itu bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat aktivitas sosial dan keagamaan.
Menurut tim arkeolog, pola sebaran stupa dan fragmen gerabah di sekitar lokasi menunjukkan adanya tata ruang permukiman. Area yang lebih tinggi diyakini sebagai zona suci, sementara wilayah di bawahnya merupakan tempat tinggal warga. "Kami menemukan pecahan keramik asing dari Dinasti Tang dan gerabah lokal yang tersebar merata. Ini menandakan aktivitas perdagangan dan domestik berlangsung intensif," kata salah satu anggota tim peneliti.
Temuan ini berbeda dengan candi-candi besar di Jawa Tengah yang umumnya berdiri sendiri. Di Nepen, stupa ditemukan tersebar di titik-titik yang berjarak 50 hingga 200 meter satu sama lain. Pola ini mirip dengan kompleks percandian di Ratu Boko atau situs-situs Buddhis di Sumatera Selatan. BPK Jateng menduga, kawasan Nepen adalah salah satu dari sedikit permukiman Buddhis di lereng Gunung Merapi yang belum banyak tersentuh penelitian.
Warga Desa Nepen, menurut keterangan perangkat desa, sudah sejak puluhan tahun lalu menemukan batu-batu berukir saat membajak sawah. Namun, mereka menganggapnya sebagai batu biasa dan kerap digunakan sebagai pijakan atau pagar kebun. Baru setelah tim BPK melakukan sosialisasi dan survei awal tahun lalu, warga mulai melaporkan temuan tersebut secara sadar. "Kami pikir itu hanya batu sungai, ternyata bagian dari candi," ujar seorang petani setempat.
BPK Jawa Tengah berencana melakukan ekskavasi lanjutan dalam beberapa bulan ke depan untuk memetakan luas kawasan permukiman dan mencari fondasi bangunan utama. Tim juga akan melatih warga setempat sebagai juru pelihara situs agar temuan tidak rusak saat musim tanam. Jika terbukti sebagai permukiman Buddhis abad ke-8, Desa Nepen bisa menjadi destinasi wisata budaya baru di Boyolali yang selama ini lebih dikenal dengan susu dan kerajinan tembikar.