SUKOHARJO — Dwi Joko, pelatih Persiharjo Sukoharjo, angkat bicara soal degradasi Persis Solo ke Liga 2 musim depan. Ia menilai, kejatuhan Laskar Sambernyawa bukan semata kegagalan di atas lapangan, melainkan cermin dari kebijakan pembinaan pemain yang kurang berpijak pada akar rumput.
Bagi Dwi Joko, degradasi Persis Solo adalah ironi. Klub sebesar Persis, dengan suporter fanatik dan sejarah panjang, seharusnya tidak terjebak dalam siklus instan yang mengandalkan pemain asing atau rekrutan dari luar daerah.
"Jangan lagi mengabaikan talenta lokal," ujar Dwi Joko dalam pernyataannya, Senin lalu. Ia menekankan bahwa pembinaan usia muda di Solo Raya sebenarnya tidak kalah dari daerah lain, hanya saja kurang mendapat tempat di skuad utama.
Pernyataan Dwi Joko ini memantik diskusi tentang pola rekrutmen Persis dalam beberapa musim terakhir. Banyak pengamat sepak bola lokal menilai, ketergantungan pada pemain dari luar Jawa Tengah justru memutus rantai regenerasi pemain asli Solo.
Dwi Joko, yang sehari-hari menangani Persiharjo di Liga 3, melihat langsung betapa banyak pemain muda potensial di Sukoharjo dan sekitarnya yang kesulitan menembus skuad utama Persis. "Mereka butuh kesempatan, bukan sekadar menjadi penonton di kandang sendiri," tambahnya.
Degradasi Persis Solo bukan hanya pukulan bagi manajemen, tetapi juga bagi ekosistem sepak bola Jawa Tengah. Dwi Joko berharap, kejadian ini menjadi momentum evaluasi total, bukan hanya di Persis, tetapi juga di klub-klub lain di provinsi ini.
Ia mendorong agar klub lebih serius membangun akademi dan memberikan porsi lebih besar untuk pemain lokal. "Kekuatan sebuah klub bukan dari berapa banyak pemain asing yang dibeli, tapi dari seberapa dalam akar lokalnya tertanam," pungkasnya.