SURAKARTA — Keputusan berjudi dengan mendatangkan hampir 10 pemain asing di bursa transfer paruh musim tak mampu menyelamatkan Persis Solo. Klub kebanggaan Kota Solo itu akhirnya menerima kenyataan pahit: degradasi ke kasta kedua Liga Indonesia.
Manajemen Persis Solo melakukan gebrakan besar di tengah musim. Mereka merombak total lini asing. Sekitar 10 pemain asing didatangkan dalam waktu singkat dengan harapan membalikkan tren negatif tim.
Keputusan mendatangkan pemain dalam jumlah besar justru menghancurkan chemistry tim. Pelatih Persis Solo, Milo, mengakui perubahan itu terlambat dan tidak berdampak signifikan di lapangan.
"Perubahan datang terlambat. Kami sudah berusaha maksimal, tapi hasilnya tidak sesuai harapan," ujar Milo dalam sesi evaluasi usai laga penentuan degradasi.
Alih-alih memperkuat, perombakan besar-besaran ini justru menghilangkan identitas permainan. Rotasi pemain yang terlalu sering membuat lini belakang keropos dan lini depan tumpul.
Beberapa dari 10 pemain asing itu bahkan tak sempat menunjukkan performa terbaik. Adaptasi yang terlalu singkat membuat mereka gagal berkontribusi. Persis Solo harus membayar mahal keputusan yang diambil dalam kepanikan.
Degradasi ini menjadi pukulan telak bagi Persis Solo. Klub yang sebelumnya tampil perkasa di Liga 2 sebelum promosi kini harus melakukan evaluasi total, mulai dari manajemen hingga strategi rekrutmen pemain.
Musim depan, Persis Solo dipastikan kembali berjuang di Liga 2. Pertanyaan besarnya: akankah kegagalan ini menjadi cambuk untuk bangkit, atau justru mengulang kesalahan yang sama?