SEMARANG — Angka itu setara 73 persen dari total target yang ditetapkan. Dari jumlah tersebut, 2.769 unit di antaranya sudah memiliki gedung operasional sendiri. Capaian ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan jumlah gedung dan operasional KDKMP tertinggi secara nasional.
“Koperasi Merah Putih harus menjadi wadah bagi produk-produk unggulan desa agar bisa berkembang dan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar,” ujar Mohammad Saleh di Kota Semarang, baru-baru ini.
Menurut politikus Golkar tersebut, setiap desa di Jawa Tengah memiliki potensi yang berbeda. Mulai dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan tangan, hingga produk olahan UMKM.
Karena itu, Saleh meminta pengelolaan KDKMP disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan desa masing-masing. Ia menilai antusiasme masyarakat dan pemerintah desa dalam mengembangkan koperasi sudah cukup tinggi.
“Tinggal bagaimana koperasi ini benar-benar produktif dan memberi manfaat ekonomi,” katanya.
Wakil Ketua DPRD Jateng itu mendorong pemerintah daerah untuk terus melakukan pendampingan. Pendampingan itu mencakup manajemen usaha, pemasaran produk, hingga penguatan sumber daya manusia pengelola koperasi.
Menurutnya, koperasi perlu dikelola secara profesional agar mampu bersaing di tengah dinamika ekonomi saat ini. Ia berharap KDKMP dapat menjadi jembatan pemasaran bagi produk lokal sehingga pelaku UMKM desa memiliki akses pasar yang lebih luas.
“Kalau koperasi mampu menyerap dan memasarkan produk lokal secara konsisten, maka ekonomi desa akan ikut bergerak,” ujar Saleh yang juga menjabat Ketua DPD Golkar Jawa Tengah.
Saleh menilai perkembangan KDKMP menjadi modal besar dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di tingkat desa dan kelurahan. Keberadaan koperasi dinilai dapat membantu memperkuat rantai distribusi produk masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tingkat desa.
Ia berharap pengembangan KDKMP di Jawa Tengah tidak hanya mengejar jumlah, tetapi juga kualitas pengelolaan dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.