SEMARANG — Lingkungan pendidikan di Kota Semarang kini dalam kondisi mengkhawatirkan akibat kepungan iklan rokok yang menyasar kelompok usia muda. Berdasarkan hasil riset spasial Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), ribuan siswa terpapar promosi produk tembakau tersebut saat berangkat maupun pulang sekolah.
Data integrasi IYCTC memproyeksikan sebanyak 74.578 siswa terpapar promosi rokok secara langsung setiap hari. Kelompok yang paling terdampak justru berasal dari jenjang pendidikan dasar (SD) dengan jumlah mencapai 29 ribu siswa, disusul pelajar SMA sebanyak 19 ribu orang.
Strategi pemasaran yang digunakan produsen rokok dinilai sangat terencana untuk menarik minat remaja. Peneliti IYCTC, Nalsali Ginting, mengungkapkan bahwa 91 persen iklan yang ditemukan menggunakan warna-warna cerah yang mencolok secara visual.
Daya tarik lainnya muncul dari variasi rasa yang ditawarkan. Sebanyak 49,7 persen iklan menggunakan diksi rasa buah-buahan seperti apel, jeruk, hingga semangka untuk mengaburkan persepsi bahaya rokok. Selain itu, harga produk yang dipromosikan sangat terjangkau bagi kantong pelajar.
“Sekitar 40,4 persen iklan mencantumkan harga produk di bawah Rp20 ribu. Harga ini sangat kompetitif dan mudah dijangkau oleh anak-anak sekolah,” ujar Nalsali pada Rabu, 6 Mei 2026.
Menanggapi temuan tersebut, Pemerintah Kota Semarang menyatakan komitmennya untuk mengevaluasi aturan yang ada. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, menyebut penguatan regulasi menjadi mendesak untuk menekan tren perokok usia dini.
Hakam menyoroti adanya transformasi produk ke rokok elektronik yang kini mulai banyak digandrungi anak muda. Menurutnya, paparan zat berbahaya ini tidak hanya merusak kesehatan paru-paru, tetapi juga berdampak pada risiko jangka panjang bagi generasi mendatang.
“Semarang memiliki komitmen besar sebagai Kota Layak Anak. Tapi, sekarang juga sedang banyak tren usia perokok yang semakin dini dan transformasi produk ke rokok elektronik yang berdampak pada risiko stunting hingga kesehatan reproduksi,” kata Hakam.
Riset spasial yang dilakukan IYCTC ini mengambil sampel di tiga wilayah padat, yakni Kecamatan Pedurungan, Semarang Tengah, dan Semarang Timur. Tim peneliti menemukan total 375 titik iklan rokok yang tersebar di jalur-jalur strategis.
Fakta yang paling mencolok adalah 97 persen dari titik iklan tersebut berada dalam radius kurang dari 500 meter dari gerbang sekolah. Lokasi penempatan iklan ini dianggap sengaja memanfaatkan jalur utama yang setiap hari dilalui siswa.
“Iklan-iklan ini bahkan dipasang di sepanjang jalan lintas provinsi dan jalur utama yang dilewati siswa setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah,” pungkas Nalsali.