UNEP Ungkap Limbah Makanan Hasilkan Metana, Perparah Pemanasan Global

Penulis: Vino Bastian  •  Rabu, 30 September 2026 | 14:50:31 WIB
Limbah makanan yang membusuk di TPA melepaskan gas metana yang memperparah pemanasan global.

JAWA TENGAH — Program Lingkungan PBB (UNEP) mencatat lebih dari 1 miliar porsi makanan terbuang setiap hari, dengan sekitar 60 persen berasal dari rumah tangga. Limbah makanan yang membusuk di TPA menghasilkan gas metana yang bertanggung jawab atas hampir sepertiga pemanasan global. Pengurangan emisi metana disebut sebagai "rem darurat" untuk memperlambat kenaikan suhu bumi.

Limbah makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA) melepaskan gas metana (CH4) yang jauh lebih kuat dari karbon dioksida dalam jangka pendek. UNEP mencatat dalam periode 20 tahun, metana mampu memerangkap panas 86 kali lebih kuat dibandingkan CO2.

Data UNEP menyebut limbah makanan bertanggung jawab atas hingga 10 persen total emisi gas rumah kaca global. Angka itu hampir lima kali lipat emisi yang dihasilkan sektor penerbangan.

Mengapa Metana dari Sampah Makanan Berbahaya

Masalah muncul ketika sisa makanan dibuang begitu saja dan tertimbun jauh di dalam TPA. Dalam kondisi minim oksigen, mikroorganisme menguraikan bahan organik dan menghasilkan metana.

Berbeda dari CO2 yang bertahan sangat lama di atmosfer, metana memiliki masa hidup atmosfer lebih pendek. Artinya, mengurangi sumber emisi metana saat ini dapat memberikan manfaat iklim dalam beberapa dekade mendatang.

UNEP menggambarkan pengurangan emisi metana sebagai semacam "rem darurat" untuk pemanasan global. Metana bertanggung jawab atas hampir sepertiga pemanasan global yang telah terjadi hingga saat ini.

Skala Pemborosan Makanan Global

UNEP mengungkapkan lebih dari 1 miliar porsi makanan tidak dimakan setiap hari. Penyebabnya beragam, mulai dari produksi berlebih, makanan rusak, hingga perencanaan konsumsi yang buruk.

Sekitar 60 persen makanan yang terbuang berasal dari rumah tangga. Skala pemborosan ini memiliki konsekuensi langsung terhadap iklim global.

Solusi Iklim Paling Cepat dan Hemat Biaya

Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP, menegaskan pencegahan limbah makanan perlu dilakukan lebih cepat. Menurutnya, cara paling efektif mengurangi metana dari limbah makanan adalah mencegah makanan menjadi sampah sejak awal.

"Setiap makanan yang diselamatkan, dibagikan, atau tidak terbuang berarti makanan tersebut digunakan dengan lebih baik. Itu juga berarti metana yang berhasil dihindari," kata Krause, dikutip dari situs UNEP.

"Pada saat dunia mencari cara praktis untuk memperlambat pemanasan dengan cepat, mengatasi limbah makanan mungkin menjadi salah satu solusi iklim yang paling segera dan hemat biaya yang tersedia," ujarnya.

Target Food Waste Breakthrough 2030

Program Food Waste Breakthrough menargetkan pengurangan limbah makanan hingga setengahnya pada 2030. Jika target tercapai, emisi metana dapat berkurang hingga 7 persen.

Upaya ini tidak hanya menyasar rumah tangga. Pemerintah, restoran, supermarket, produsen makanan, hingga pemerintah kota juga dapat berperan. Makanan berlebih yang masih layak dikonsumsi dapat disalurkan kepada orang yang membutuhkan.

Sistem penyimpanan dan pengelolaan stok yang lebih baik dapat mencegah makanan rusak sebelum sempat dikonsumsi. UNEP mencontohkan Brasil yang menjalankan kebijakan pengurangan limbah sebelum makanan mencapai tempat sampah.

Pemisahan Sampah Organik dan Kompos

Makanan yang sudah basi atau tidak layak dikonsumsi tetap perlu dikelola. Di sinilah pemisahan sampah organik menjadi penting.

Jika sampah organik dipisahkan dan dikomposkan dalam lingkungan kaya oksigen, proses penguraiannya lebih banyak menghasilkan CO2, bukan metana. CO2 tetap gas rumah kaca, tetapi dalam jangka pendek kemampuan memerangkap panasnya jauh lebih rendah.

Sisa makanan yang tidak bisa diselamatkan masih dapat dialihkan menjadi kompos atau sumber daya lainnya, alih-alih langsung ditimbun di TPA.

Teknologi Black Soldier Fly

UNEP menyoroti pendekatan penggunaan black soldier fly atau lalat tentara hitam. Pada fase larva, serangga tersebut dapat mengonsumsi limbah makanan dan bahan organik.

Setelah dewasa, biomassa serangga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan berprotein tinggi. Teknologi ini sudah diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk desa dan kota di Uganda serta Malawi.

Pendekatan tersebut mengubah limbah organik dari masalah menjadi sumber daya, sekaligus mengurangi jumlah bahan organik yang masuk ke TPA.

Komitmen Global

PBB menetapkan 29 September sebagai Hari Kesadaran Internasional tentang Kehilangan dan Pemborosan Pangan. Lebih dari 60 negara telah berkomitmen melalui Declaration on Reducing Methane from Organic Waste untuk memangkas emisi metana dari sektor limbah organik.

Bagi Indonesia, persoalan ini relevan mengingat tingginya volume sampah organik di TPA dan masih terbatasnya infrastruktur pemilahan sampah di banyak kota. Pengurangan limbah makanan di level rumah tangga menjadi titik intervensi paling cepat yang bisa dilakukan tanpa menunggu pembangunan fasilitas pengolahan skala besar.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top