JAWA TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan 66,65 poin atau 1,08 persen ke level 6.081 pada pembukaan perdagangan, sehari setelah penerapan batas harga terendah saham Rp1 di pasar reguler dan pasar tunai. Dari total saham yang diperdagangkan, 437 saham melemah, 134 menguat, dan 142 stagnan, dengan kapitalisasi pasar tercatat Rp10.717,854 triliun.
Berdasarkan data RTI Business pukul 09.05 WIB, indeks dibuka melemah di 6.118 dengan level tertinggi 6.126 dan terendah 6.080. Volume perdagangan mencapai 4,14 miliar saham, nilai transaksi Rp1,32 triliun, dan frekuensi transaksi 142.688 kali.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih rawan melanjutkan tren penurunan dalam jangka pendek. Menurutnya, downtrend indeks masih membentuk bagian wave a dari wave (x) pada label hitam.
"Kami memperkirakan downtrend IHSG masih membentuk bagian wave a dari wave (x) pada label hitam, sehingga indeks masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area 6.088-6.111," ujar Herditya dalam riset hariannya.
Herditya memproyeksikan IHSG bergerak di rentang support 6.041 dan 5.984, dengan resistance 6.297 dan 6.419. Ia merekomendasikan saham AADI, BRPT, PSAB, dan PTRO.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova melihat indeks saham masih berisiko melanjutkan pelemahan setelah menembus level support 6.159 pada perdagangan sebelumnya. Penembusan level itu membuka peluang penurunan lebih dalam.
"Penembusan di bawah 6.159 membuka peluang IHSG melanjutkan penurunan menuju area 6.015-6.029. Probabilitas skenario biru akan meningkat apabila tekanan jual membawa IHSG turun di bawah 6.015," ujar Ivan.
Ivan memprediksi IHSG bergerak di level support 6.015, 5.850, dan 5.607, serta resistance 6.258, 6.423, 6.552, dan 6.712. Rekomendasi sahamnya mencakup BMRI, INCO, INDF, dan PGEO.
Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah penerapan batas harga terendah saham Rp1 di pasar reguler dan pasar tunai menjadi penyebab melemahnya IHSG. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan penghapusan batas harga minimum Rp50 tidak memberikan tekanan berarti terhadap indeks.
"Tentu bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga Rp50 itu bobotnya terhadap IHSG juga tidak besar, ya. Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp50 yang memberikan pressure kepada IHSG," ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta Selatan.
Jeffrey menyebut pergerakan saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 merupakan bagian dari fase penyesuaian nilai wajar. Banyak saham tersebut telah lama tanpa transaksi sehingga kini mencari titik keseimbangan baru melalui mekanisme auto rejection.
"Artinya memang kesepakatan dari pelaku, dari investor, mungkin memang fair value-nya tidak di Rp50. Dan saat ini sedang mencari fair value-nya. Tentu membutuhkan waktu karena ada proses auto rejection di situ sampai nanti menemukan titik fair value-nya," tuturnya.
BEI mencatat terdapat 26 saham berharga Rp50 dengan total bobot pada IHSG sebesar 1,91 persen per 25 September 2026. Saham-saham tersebut mengalami penurunan antara 8 persen hingga 14 persen dan berkontribusi terhadap pelemahan indeks sekitar 0,27 persen atau minus 16,707 poin.
"Terdapat 26 saham dengan harga Rp50 dengan total bobot pada IHSG sebesar 1,91 persen per 25 Sep 2026. Saham tersebut mengalami penurunan antara 8 persen sampai 14 persen pada 28 Sep 2026 yang berkontribusi terhadap penurunan sekitar 0,27 persen atau minus 16,707 poin," jelas Jeffrey dalam keterangan tertulis.
Bagi investor, rentang support dan resistance dari kedua sekuritas menjadi acuan awal sesi hari ini. Pergerakan saham-saham eks-harga Rp50 masih layak dicermati karena proses pencarian nilai wajar berpotensi menambah volatilitas jangka pendek.