SEMARANG — PT Automobil Jaya Abadi selaku distributor Mazda di Semarang memperluas pengenalan produk ke sejumlah daerah di Jawa Tengah. Pekalongan dan Purwokerto menjadi sasaran berikutnya setelah kegiatan serupa digelar di Cirebon.
Branch Manager Mazda Semarang, Ronald Victorian, menyebut penjajakan ini untuk mengenali karakter dan respons konsumen di wilayah yang selama ini belum menjadi pusat penjualan. Respons masyarakat akan menjadi pertimbangan dalam menentukan pengembangan pasar selanjutnya.
Perluasan pasar tidak serta-merta diikuti pembukaan dealer baru. Perusahaan masih melihat potensi konsumen dan perkembangan permintaan di masing-masing wilayah sebelum menentukan langkah berikutnya.
"Kita akan memperkenalkan ke daerah-daerah supaya lebih mengenalkan juga produk ini," kata Ronald.
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, menilai perkembangan kendaraan listrik di tiap daerah belum tentu berjalan dengan kecepatan yang sama. Karakter pasar, kebutuhan konsumen, dan kesiapan wilayah menjadi faktor yang memengaruhi penerimaan EV.
Penilaian itu muncul dari pengalamannya melintasi ruas tol dari Jakarta menuju Solo. Ia menyebut kendaraan listrik lebih mudah ditemui di Jakarta dibandingkan saat memasuki sejumlah ruas jalan di Jawa Tengah.
"Selama perjalanan aku lihat jumlah EV di jalan tol itu enggak sebanyak di Jakarta. Banyak di tol Batang, di tol apa, rata-rata enggak ada EV-nya," kata Ricky, Jumat (11/9/2026).
Ia mencontohkan Purwokerto yang menurutnya belum tentu memiliki karakter pasar sama dengan Jakarta.
"Sekarang coba pikir, di Purwokerto apa masa EV bisa oke? Sekarang-sekarang ya, enggak juga kan?" ujarnya.
Kondisi itu menunjukkan perkembangan otomotif tetap perlu menyesuaikan kebutuhan setiap daerah. Pilihan konsumen tidak hanya tertuju pada satu teknologi.
"Apakah ada mobil hybrid? Ada. Apakah ada ICE? Ada juga. Jadi kita enggak mau disebut bahwa Mazda menjadi produsen mobil EV," katanya.
Ricky menegaskan perusahaan tidak ingin sekadar mengikuti tren elektrifikasi. Karakter pasar dan kebutuhan pengguna tetap menjadi pertimbangan utama.
"Jadi kita enggak follow the crowd. Kita enggak mau mencoba untuk kayak ikut-ikutan. Tapi kita tetap stay true to our own value," jelasnya.
Dengan karakter pasar yang berbeda-beda, penjajakan ke sejumlah daerah menjadi cara industri otomotif membaca peluang di Jawa Tengah. Respons konsumen di tiap wilayah akan menjadi bagian dari pertimbangan menentukan langkah berikutnya.