BATANG — Ratih Anggun Perdhani, pemilik Nala Indonesian Tea, menuturkan bahwa usahanya dimulai dari kolaborasi sederhana bersama petani dan pengolah teh di Batang. Fokus awalnya adalah pengemasan teh single origin. Kini produk tersebut telah menembus pasar internasional.
Kolaborasi itu lahir dari persoalan nyata di kebun. Petani dan pengolah lokal mampu memproduksi specialty tea, tetapi kesulitan memasarkan hasilnya.
"Awalnya kami memang bergeraknya di packing untuk single origin. Kami berkolaborasi dan bersinergi sama petani dan pengolah lokal yang ada di Batang," kata Ratih saat ditemui di Bazar Serambi Nusantara, Sabtu (19/9/2026).
Ratih menambahkan bahwa potensi teh di Batang tergolong besar. Namun, pasar untuk teh petikan halus masih sempit.
"Ketika mereka bikin produk specialty tea, teh yang petikan halus, mereka bisa bikin, tapi untuk jualnya bingung ke mana. Pasarnya sangat kecil," ujarnya.
Dari persoalan itu, Nala mengambil posisi sebagai jembatan antara produsen kecil dan pembeli. Saat ini Nala bermitra dengan sekitar lima petani dan pengolah teh di Batang.
Tujuannya, nilai jual teh meningkat sehingga manfaatnya terasa hingga ke pemetik.
Produk Nala dibangun dari empat jenis teh dasar: white tea, green tea, oolong, dan black tea. Keempatnya diracik dengan bunga, rempah, serta bahan alami lain menjadi sejumlah varian.
Varian tersebut antara lain Nalawatea Function & Wellness Tea, Ramu Cotecaberry, Swaran Blue, Manala Chai, Dahayu, dan Santika.
Seluruh produk Nala mempertahankan konsep bahan alami. Tidak ada tambahan essence maupun flavor buatan. Warna pada sejumlah varian pun berasal dari bahan alami, seperti bunga telang dan kayu secang.
Konsistensi itu berbuah pengakuan. Nala meraih Golden Leaf Awards 2023 dari Australian Tea Master.
Nala menyabet Gold Winner untuk kategori Functional & Wellness Blend dan Black Tea Natural Blend. Selain itu, Silver Winner untuk kategori White Tea Natural Blend.
Dari situ, produk Nala dikirim secara berkala dalam jumlah kecil ke Australia, Italia, dan Swiss.
Meski permintaan datang, Ratih belum berencana mengambil produksi massal. Ia mengaku beberapa kali mendapat tawaran ekspor hingga dua atau tiga kontainer.
"Karena Nala ini produk artisan, batch-nya kecil. Kemudian Nala ini natural ingredients, jadi belum bisa produksi dalam jumlah besar," katanya.
Di dalam negeri, produk Nala banyak diserap sektor hotel, restoran, kafe, dan spa. Serapan terbesar di Bali, dengan produksi berkisar 200-400 bungkus per bulan.
Nala tidak hanya menjual produk. Mereka aktif mengenalkan budaya minum teh kepada generasi muda lewat kelas teh, tea gathering, dan lokakarya.
Upaya itu menyasar citra teh yang selama ini identik dengan kesan kuno.
"Kami pengin teh itu tidak terlihat tua. Jadi terlihat cheerful, terlihat happy ketika menyeduh ataupun ketika kita minum," ujarnya.
Dari Batang, Ratih berharap teh Indonesia semakin diapresiasi dan bernilai lebih di pasar internasional. Ia meyakini kualitas teh dalam negeri tidak kalah dari negara penghasil teh lain.
"Di Jawa Tengah, di Batang, di Indonesia pada umumnya sebenarnya tidak kalah dengan negara-negara lain," pungkasnya.