SEMARANG — Penampilan bernuansa horor dalam karnaval peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pekalongan mendapat respons keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah. Dewan Penasihat MUI Jateng, KH Ahmad Darodji, menyebut atraksi tersebut menyerupai ritual pemujaan setan atau satanic. Ia menilai tampilan itu tidak beradab dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam, terutama karena dikaitkan dengan peringatan keagamaan.
Darodji menyampaikan penilaian itu kepada wartawan pada Selasa (15/9/2026). Menurutnya, sebuah penampilan yang tidak pantas dipertontonkan di depan umum apalagi dilekatkan pada momen keagamaan jelas tidak bisa dibenarkan.
"Apa yang tidak pantas di depan umum dan kaitannya dengan agama, ya tentu tidak baik. Apalagi itu dikaitkan dengan Maulid Nabi," ujar Darodji.
Salah satu kelompok peserta dalam karnaval tersebut tampil dengan busana dan atraksi bernuansa horor. Penampilan itu dilengkapi sejumlah atribut menyeramkan serta atraksi penyembelihan kambing. Kombinasi inilah yang kemudian memicu sorotan masyarakat dan dinilai menyerupai ritual pemujaan setan.
Bagi Darodji, persoalannya bukan sekadar soal visual. Pengemasan yang bernuansa gelap dan menyeramkan berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Ia tidak menutup kemungkinan bahwa maksud panitia atau peserta sebenarnya baik, yakni menampilkan kreativitas dan hiburan.
"Mungkin maksudnya baik, tapi jadinya contoh yang tidak baik. Atau bahkan, jangan-jangan ada unsur kesengajaan agar masyarakat memandang peringatan Maulid Nabi sebagai sesuatu yang tidak perlu dilakukan," ungkapnya.
Darodji mengingatkan agar penampilan semacam itu tidak sampai menimbulkan pemikiran terbalik di kalangan warga. Kesan buruk dari orang yang menyaksikan langsung, menurutnya, menjadi risiko yang harus dihindari.
"Jangan sampai timbul pemikiran terbalik dan kesan buruk dari orang yang melihatnya," imbuhnya.
Ia menegaskan, peringatan Maulid Nabi semestinya diisi dengan kegiatan syiar yang mengedepankan keteladanan dan akhlak mulia Rasulullah. Menjadikan momen keagamaan sebagai panggung atraksi yang tidak sesuai nilai kesantunan dinilai berpotensi menggeser makna dan tujuan utama perayaan.
MUI Jawa Tengah mengimbau masyarakat, panitia penyelenggara, dan pemerintah daerah agar lebih selektif dalam mengemas kegiatan keagamaan. Kehati-hatian menjadi kunci supaya peringatan Maulid Nabi tetap berada pada jalur syiar yang semestinya.
Imbauan ini muncul di tengah maraknya kreativitas panitia daerah dalam merancang acara keagamaan. MUI menekankan bahwa unsur hiburan tidak dilarang, tetapi pengemasannya harus tetap menjaga kesantunan dan tidak melenceng dari tujuan peringatan itu sendiri.