JAWA TENGAH — Tekanan ekonomi global mulai berdampak langsung ke kantong konsumen roda dua. PT Astra Honda Motor (AHM) secara terbuka menyatakan tengah mempertimbangkan opsi menaikkan harga jual motor mereka. Direktur Marketing AHM Octavianus Dwi Putro mengakui bahwa kenaikan nilai tukar dolar AS, harga material, dan biaya logistik menjadi beban yang tak bisa dihindari.
"Kalau pun ada kenaikan [harga produk], kami berhitung supaya tetap memberi ruang gerak bagi konsumen dan tidak terlalu memberatkan," ujar Octa di Cikarang, Rabu (24/6/2026).
AHM memastikan tidak akan menerapkan kebijakan harga baru secara massal. Setiap model akan dianalisis berdasarkan struktur biaya produksi, posisi di pasar, dan tingkat permintaan masing-masing segmen. Strategi ini diambil agar dampak kenaikan tidak langsung membebani seluruh konsumen secara bersamaan.
"Nanti kita lihat case by case, model by model. Tidak akan langsung serentak," kata Octa.
Beberapa komponen biaya produksi yang terus dipantau AHM antara lain penguatan dolar AS yang memengaruhi harga komponen impor, fluktuasi harga bahan baku, serta biaya distribusi dan logistik. Perusahaan masih menunggu momentum yang tepat sebelum mengambil keputusan final.
Hingga saat ini, AHM belum mengumumkan jadwal pasti kapan penyesuaian harga akan berlaku. Perusahaan memilih pendekatan hati-hati dengan terus memonitor perkembangan ekonomi makro dalam beberapa pekan ke depan.
Octa menegaskan bahwa keputusan menaikkan harga tidak bisa dilakukan tergesa-gesa. Pasar sepeda motor Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan harga, terutama di segmen entry-level yang menjadi tulang punggung penjualan. Oleh karena itu, AHM mengutamakan keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan aksesibilitas konsumen.
Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, konsumen disarankan untuk memantau pengumuman resmi dari jaringan dealer Honda terdekat. Model-model dengan permintaan tinggi dan biaya produksi besar kemungkinan menjadi prioritas pertama yang mengalami penyesuaian harga.