AAVE dan ICP Pimpin Kenaikan CoinDesk 20, Volume Perdagangan Kripto Anjlok ke Level Terendah Sejak September 2024

Penulis: Xander Situmorang  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 21:58:31 WIB
Aave dan Internet Computer catat kenaikan signifikan di tengah penurunan volume perdagangan kripto global.

Indeks acuan pasar kripto global, CoinDesk 20, ditutup di angka 1.682,86 pada Rabu sore waktu AS. Angka itu naik tipis 8,62 poin atau 0,5% sejak Selasa. Dari 20 aset yang dipantau, 15 di antaranya bergerak di zona hijau.

Aave memimpin dengan penguatan nyaris 6%, disusul Internet Computer yang tumbuh 2%. Di sisi lain, dua aset kapitalisasi besar justru menjadi pemberat: Stellar (XLM) turun 1,4% dan Cardano (ADA) melemah 1,2%. Pergerakan ini menunjukkan rotasi modal yang masih terfragmentasi—investor tidak serempak memburu Bitcoin atau Ethereum, melainkan memilih token dengan katalis spesifik.

Volume Perdagangan Anjlok ke Titik Terendah 8 Bulan

Namun gambaran makro pasar kripto jauh dari kata optimistis. Laporan CoinDesk Indices mengungkapkan volume perdagangan gabungan di seluruh bursa global pada Mei 2024 hanya mencapai 4,41 triliun dolar AS. Angka itu anjlok 3,45% dibanding bulan sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak September 2024.

Penurunan ini mengindikasikan minat spekulatif jangka pendek yang meredup. Volume tinggi biasanya menandakan aktivitas ritel dan institusional yang ramai. Sebaliknya, level saat ini mengingatkan pada periode konsolidasi panjang yang kerap mendahului pergerakan besar.

Kontrak Berjangka RWA Justru Cetak Rekor Baru

Satu sektor justru bergerak kontras: perdagangan kontrak berjangka perpetual untuk aset dunia nyata (RWA). Volumenya melesat 10,4% dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada bulan yang sama. RWA adalah token yang mewakili aset fisik seperti obligasi pemerintah, properti, atau komoditas—lonjakan ini menandakan pergeseran selera investor ke instrumen yang dianggap lebih stabil.

Fenomena ini relevan untuk dicermati pasar Indonesia. Regulasi Bappebti yang baru saja mengakui aset kripto sebagai komoditas berjangka membuka celah bagi produk derivatif serupa. Jika tren RWA terus berlanjut, bukan tidak mungkin bursa lokal seperti Indodax atau Tokocrypto mulai melirik kontrak berjangka berbasis aset riil sebagai diferensiasi produk.

Sinyal Konsolidasi atau Jebakan?

Data CoinDesk 20 dan volume perdagangan Mei mengirim sinyal yang saling bertentangan. Di satu sisi, indeks masih mampu naik tipis dan mayoritas aset menghijau—indikasi tekanan jual belum dominan. Di sisi lain, volume yang terus menyusut menandakan likuiditas mengering dan partisipasi pasar menyempit.

Bagi trader Indonesia, kondisi seperti ini kerap menjadi jebakan: kenaikan harga tanpa volume biasanya rapuh dan rawan pembalikan mendadak. Yang patut dipantau adalah apakah sektor RWA mampu terus menarik modal dan menjadi katalis baru, atau hanya euforia sesaat di tengah pasar yang lesu.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: coindesk.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top