SEMARANG — Pemerintah menetapkan harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green (RON 95) melonjak dari Rp12.900 per liter ke Rp17.000 per liter. Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Turbo yang kini mencapai Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.
Pengamat transportasi dari Unnes, Alfa Narendra, menyebut besaran kenaikan ini berada di luar ekspektasi banyak pihak. Menurutnya, kenaikan harga hampir sepertiga dari harga sebelumnya membuat biaya operasional harian para pengemudi transportasi online membengkak drastis.
“Kenaikan ini cukup besar. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk tetap beroperasi dan mencari penumpang setiap hari,” ujarnya.
Alfa menjelaskan, sebagian besar kendaraan ojek online dan taksi online menggunakan Pertamax. Bahan bakar dengan oktan lebih tinggi ini dipilih untuk menjaga performa mesin tetap optimal dan emisi lebih rendah, terutama bagi kendaraan yang beroperasi nonstop setiap hari.
“Kelompok yang paling terdampak adalah pengemudi transportasi online. Karena sebagian besar kendaraan mereka memang menggunakan Pertamax,” kata Alfa.
Dengan margin pendapatan yang tipis, kenaikan biaya operasional ini memaksa para pengemudi mengurangi jatah bensin harian atau mencari penumpang lebih lama untuk menutup ongkos.
Di tengah kenaikan BBM nonsubsidi, pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Alfa menilai langkah ini merupakan strategi pemerintah untuk meredam potensi gejolak sosial yang lebih luas di masyarakat.
“Keputusan mempertahankan harga BBM subsidi sambil menaikkan BBM nonsubsidi merupakan langkah untuk mengurangi potensi gejolak sosial,” katanya.
Kenaikan harga Pertamax yang signifikan diprediksi mengubah pola konsumsi bahan bakar masyarakat. Sebagian pengguna kendaraan pribadi yang sebelumnya memilih Pertamax diperkirakan akan beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran harian. Peralihan ini berpotensi meningkatkan volume konsumsi BBM subsidi yang kuotanya terbatas.