SURAKARTA — Ketegangan di internal Keraton Kasunanan Surakarta kembali mencuat jelang momen Malam Satu Suro. Dua kubu yang selama ini berseberangan, yakni loyalis Pakubuwono (PB) XIV dan Dewan Adat, sama-sama mengumumkan akan menggelar Kirab Pusaka pada waktu yang sama, dengan rute yang identik, dan membawa pusaka yang serupa.
Kirab Pusaka merupakan tradisi tahunan yang biasanya diikuti ribuan warga. Namun tahun ini, ritual sakral tersebut berpotensi dihelat oleh dua kelompok berbeda. Masing-masing kubu mengklaim sebagai representasi sah dari keraton dan tak mau mengalah dalam penyelenggaraan tradisi warisan leluhur.
Baik pihak loyalis PB XIV maupun Dewan Adat telah menyatakan komitmennya untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Keduanya meminta agar ritual berlangsung damai tanpa ada gesekan antarpendukung.
Tokoh dari masing-masing kubu secara terpisah menyerukan hal yang sama: pengendalian diri dan prioritas pada kesakralan malam pergantian tahun Jawa. Mereka menyadari bahwa konflik horizontal hanya akan mencoreng martabat keraton dan mengganggu kekhusyukan warga yang ikut serta.
"Kami berharap semua pihak bisa menahan ego. Ini bukan soal siapa yang benar, tapi soal bagaimana tradisi ini bisa berjalan dengan khidmat," ujar seorang perwakilan Dewan Adat yang enggan disebut namanya.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota Surakarta belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait potensi duel kirab tersebut. Namun sejumlah tokoh masyarakat dan budayawan mendesak agar aparat keamanan bersiaga penuh. Mereka khawatir gesekan kecil bisa meluas jika tidak ada mediasi sejak awal.
Malam Satu Suro sendiri merupakan momen penting bagi masyarakat Jawa, khususnya di Solo Raya. Ribuan warga biasanya turun ke jalan untuk menyaksikan kirab pusaka dan mengikuti tradisi tapa bisu. Jika dua kubu tetap ngotot menggelar kirab secara terpisah, potensi kerumunan ganda di titik yang sama bisa menjadi masalah keamanan dan kesehatan.
Belum ada pertemuan resmi antara kedua kubu untuk membahas solusi bersama. Masing-masing masih pada posisi klaim sepihak. Para pengamat keraton menilai mediasi harus segera dilakukan, setidaknya untuk menyepakati pembagian rute atau jam pelaksanaan agar tidak terjadi kontak langsung antarpendukung.
Jika tidak ada titik temu, bukan tidak mungkin tradisi yang seharusnya sakral justru berubah menjadi ajang adu kekuatan. Warga Solo pun berharap akal sehat bisa menang di atas ego kelompok.