SEMARANG — Pemerintah pusat mulai melirik jaringan masjid dan pondok pesantren di Jawa Tengah sebagai lokomotif baru ekonomi umat. Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyebut jumlah tempat ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan di provinsi ini sangat masif dan bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan warga.
“Bayangkan di Jawa Tengah ini terdapat 54.023 masjid. Hampir semua masjid yang kita lihat di Semarang itu ada ruang yang bisa dibangunkan minimarket di situ. Jumlah pondok pesantren kita ada 5.451,” kata Nasaruddin di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kantor Gubernur Jateng, Jumat (5/6/2026).
Menag meyakini potensi ini bisa menjadi penyeimbang dominasi jaringan ritel modern di daerah. Ia mencontohkan, setiap masjid memiliki ruang yang bisa disulap menjadi pusat distribusi kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari beras, minyak goreng, hingga gas elpiji.
“Kalau Jawa Tengah mampu memberdayakan masjid sebagai pusat koperasi masyarakat, maka separuh dari perputaran uang pasar minimarket yang senilai Rp40 triliun itu bisa kita gunakan untuk memberdayakan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Nasaruddin, koperasi masjid bukan sekadar tempat jual-beli. Model bisnis ini dirancang agar jemaah berbelanja sambil beramal, dengan keuntungan yang kembali ke kas masjid untuk kegiatan sosial dan keagamaan.
Yang membuat gagasan ini dinilai realistis, kata Nasaruddin, adalah ekosistem yang sudah terbentuk di dalam masjid. Di satu tempat berkumpul pemilik modal, tenaga kerja, dan konsumen potensial.
“Masjid itu sangat unik. Di masjid itu ada pemilik modal dengan status jemaah. Ada pengangguran juga di masjid itu, yang juga jemaah. Ada orang pintar juga di masjid itu. Jadi kalau seluruh potensi itu disinergikan di masjid, maka insyaallah hal tersebut bisa membebaskan umat dari semua keterbelakangan, kemiskinan, dan sebagainya,” pungkasnya.
Pernyataan ini disampaikan Nasaruddin usai Peluncuran Insersi Pendidikan Perkoperasian di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia berharap program tersebut bisa menjadi katalis bagi penguatan ekonomi kerakyatan, khususnya di wilayah dengan konsentrasi masjid dan pesantren tertinggi di Indonesia.