BOYOLALI — Langkah antisipatif diambil oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Boyolali menghadapi potensi krisis air bersih yang kerap terjadi saat puncak musim kemarau. Meskipun kondisi terkini masih terpantau aman, pemkab tidak ingin lengah dan telah merancang sejumlah langkah darurat.
Berdasarkan data yang dihimpun dari dinas terkait, volume air di sejumlah embung, waduk, dan telaga di Boyolali hingga awal Juni ini masih mencukupi. Status aman ini menjadi modal awal bagi pemkab untuk menyusun strategi distribusi jika debit air mulai menurun drastis dalam beberapa pekan ke depan.
Pemkab memetakan titik-titik rawan yang biasanya pertama kali mengalami kekeringan. Langkah ini dilakukan agar bantuan air bersih bisa segera dikirim tanpa perlu menunggu laporan dari warga yang baru masuk setelah kondisi kritis.
Sejumlah skema telah disiapkan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi. Salah satunya adalah penyiapan armada tangki air bersih yang akan dikerahkan ke desa-desa yang mengalami kekeringan.
Selain itu, pemkab juga akan mengoptimalkan fungsi sumur bor dan sumber air alternatif yang tersebar di beberapa kecamatan. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat pun terus diperkuat untuk mempercepat respons jika terjadi darurat kekeringan.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk mulai menggunakan air secara bijak sejak sekarang. Kebiasaan menampung air hujan dan mengurangi pemakaian air yang tidak perlu dinilai bisa memperpanjang masa pakai tampungan yang ada.
Dengan kesiapan yang dimulai lebih awal, pemkab berharap dampak musim kemarau tahun ini bisa ditekan seminimal mungkin, terutama bagi warga di wilayah perbukitan yang kerap kesulitan air saat kemarau panjang tiba.