SEMARANG — Pemprov Jateng tidak hanya mengandalkan candi dan pantai untuk menarik turis asing. Sebuah strategi baru tengah digodok: menjadikan provinsi ini sebagai destinasi utama wisata ramah muslim. Langkah ini diyakini bisa menjadi pembeda di tengah persaingan pariwisata nasional.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Agus Hariyanto, mengungkapkan bahwa program ini lebih dari sekadar label halal pada makanan. Pihaknya tengah menyusun paket lengkap yang mencakup akomodasi dengan fasilitas ibadah yang memadai, hingga pemandu wisata yang paham kebutuhan wisatawan muslim.
“Kami ingin wisatawan mancanegara merasa nyaman. Ini soal ekosistem, mulai dari hotel yang menyediakan alat salat, restoran bersertifikat halal, sampai destinasi yang punya tempat wudhu yang bersih,” ujar Agus dalam sebuah forum diskusi pariwisata di Semarang.
Angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Tengah memang terus menunjukkan tren positif. Namun, untuk mencapai target ambisius 500.000 kunjungan, Pemprov Jateng sadar harus melakukan terobosan. Pasar wisatawan muslim dari Timur Tengah dan Asia Tenggara dinilai sebagai potensi besar yang belum tergarap maksimal.
Selama ini, mayoritas turis asing yang datang ke Jateng masih didominasi dari Eropa. Dengan konsep ramah muslim, Pemprov berharap bisa mendiversifikasi asal negara wisatawan sekaligus memperpanjang rata-rata lama tinggal mereka.
Salah satu poin krusial dalam gebrakan ini adalah sumber daya manusia. Pemprov Jateng akan memprioritaskan pelatihan bagi pemandu wisata lokal agar mampu berkomunikasi dan melayani wisatawan muslim dengan baik. Pengetahuan tentang adab dan kebutuhan ibadah wisatawan menjadi materi wajib.
“Pemandu wisata adalah ujung tombak. Mereka harus bisa menjelaskan bahwa di sini aman dan nyaman untuk beribadah. Ini akan menjadi nilai jual yang kuat,” kata Agus menambahkan.
Beberapa destinasi unggulan di Jawa Tengah sudah mulai disosialisasikan untuk mengadopsi standar ini. Mulai dari kompleks Candi Borobudur, kawasan pecinan di Semarang, hingga destinasi alam di Dieng dan Karimunjawa. Pemprov memastikan tidak akan ada perubahan fisik yang mengganggu estetika, melainkan penambahan fasilitas pendukung.
Langkah ini mendapat sambutan positif dari kalangan pelaku usaha pariwisata. Mereka menilai segmen wisata ramah muslim memiliki daya beli tinggi dan loyalitas kuat terhadap destinasi yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.