JAWA TENGAH — Suasana peralihan kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mendapat respons langsung dari pejabat yang baru saja diganti. Dadan Hindayana, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala BGN, memilih untuk buka suara di tengah publik. Ia tidak menunjukkan resistensi atas keputusan yang diambil oleh Kepala Negara.
Dadan menegaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti dirinya adalah sesuatu yang wajar dalam sistem pemerintahan. “Pergantian pejabat itu hak prerogatif Presiden,” ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Pernyataan ini sekaligus meredam spekulasi yang berkembang di internal BGN maupun publik. Sejumlah pihak sebelumnya menduga pencopotan tersebut terkait dengan kinerja atau arah kebijakan program gizi nasional yang tengah berjalan.
Di balik pernyataan resminya, Dadan menyisipkan pesan personal untuk Presiden Prabowo. Ia berharap program-program strategis di BGN tetap berjalan sesuai visi awal pemerintahan. Pesan itu disampaikan tanpa nada kecewa, justru lebih mirip sebagai bentuk dukungan moral kepada pemimpinnya.
“Saya titip pesan untuk Bapak Presiden, semoga apa yang sudah dimulai bisa dilanjutkan lebih baik lagi,” kata Dadan.
Kursi Kepala BGN kini resmi diisi oleh Nanik S Deyang. Ia dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinan yang ditinggalkan Dadan. Belum ada pernyataan resmi dari Nanik terkait arah kebijakan baru yang akan diambil, namun publik menanti langkah pertamanya dalam mengelola program gizi yang menyentuh jutaan masyarakat.
Pergantian ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap program makan bergizi gratis dan percepatan penurunan stunting yang menjadi salah satu prioritas nasional.
Yang menarik dari kasus ini adalah bagaimana Dadan memilih untuk tidak memperkeruh suasana. Tidak ada pernyataan bernada sarkastis, tidak ada tudingan, apalagi perlawanan. Sikap ini justru membuat publik bertanya-tanya: apakah ada cerita lain di balik pencopotan yang terkesan mendadak ini?
Namun setidaknya, satu hal sudah jelas. Di tengah hiruk-pikuk politik birokrasi, Dadan memilih jalan sebagai negarawan. Ia pergi dengan meninggalkan pesan, bukan masalah.