BATANG — Dari dapur rumah sederhana di pesisir utara Jawa Tengah, pasangan muda Batang ini membuktikan bahwa bisnis kuliner bisa dimulai tanpa menyewa ruko atau menggaji banyak karyawan. Mereka hanya mengandalkan ponsel dan jaringan internet untuk menjaring pelanggan.
“Kami belum berani buka outlet permanen karena masih merintis,” kata Anindya, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, sistem penjualan online membuat operasional usaha lebih ringan. Tidak ada biaya sewa tempat, dan tenaga kerja masih berasal dari keluarga inti.
Usaha ini dirintis sejak setahun terakhir sebagai tambahan penghasilan keluarga. Sebelum fokus pada dimsum, pasangan ini sempat mencoba menjual makanan berat. Namun pasar justru lebih cepat merespons produk dimsum buatan mereka.
Saat ini Kedai Dimo menawarkan tiga varian: dimsum kukus, dimsum kuah, dan dimsum goreng. Menu-menu itu mulai dikenal kalangan anak muda di Batang, yang menjadi target pasar utama.
Strategi promosi mereka terbilang sederhana. Status WhatsApp dan unggahan Instagram pribadi menjadi satu-satunya saluran pemasaran. Cara ini dinilai paling hemat biaya dan minim risiko gagal modal.
Untuk transaksi, pasangan ini mengandalkan layanan perbankan digital BRImo. Pembeli bisa melakukan pembayaran secara non-tunai, yang memudahkan pencatatan keuangan usaha rumahan.
Anindya mengaku belum berniat memperluas usaha dalam waktu dekat. Fokus saat ini adalah membangun basis pelanggan setia dan menjaga konsistensi rasa dari dapur rumah mereka di Desa Siberuk.