KNKT Ungkap Sistem Komunikasi Berbelit Jadi Pemicu Tabrakan Kereta di Bekasi, 16 Tewas

Penulis: Usman Harun  •  Senin, 25 Mei 2026 | 18:47:01 WIB
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono memaparkan sistem komunikasi berlapis menjadi penyebab kecelakaan kereta di Bekasi.

JAWA TENGAH — Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan temuan ini dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR, Kamis (21/5/2026). Menurutnya, dua kereta yang terlibat kecelakaan—KA 5568A Commuter Line dan KA 4B Argo Bromo Anggrek—berada di wilayah komunikasi radio yang berbeda. Akibatnya, informasi harus melewati tiga lapis birokrasi sebelum sampai ke masinis.

Radio Berbeda, Koordinasi Berlapis Tiga

KNKT mendapati KA 5568A menggunakan radio Sepura di wilayah PK Selatan (S.27), sementara KA Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif di wilayah PK Timur (S.1). "PK Selatan harus memberitahukan kepada chief, lalu chief meneruskan ke PK Timur. Ini membuat jeda terlalu lama," kata Soerjanto dalam paparannya.

Jeda itu berakibat fatal. Masinis KA Argo Bromo Anggrek mengaku sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 kilometer setelah mendapat informasi adanya temperan KRL di depan. Namun perintah yang diterima bukan pengereman penuh, melainkan pengereman bertahap dan perbanyak semboyan 35 (klakson).

PK Tak Tahu Kondisi Lapangan, Hanya Andalkan Suara Radio

Investigasi awal KNKT mengungkap kelemahan lain: pusat kendali tidak memiliki visibilitas terhadap kondisi nyata di Stasiun Bekasi Timur. Komunikasi hanya mengandalkan suara radio dari kabin masinis. "PK tidak tahu kondisi sebenarnya seperti apa, tetapi mereka hanya memberi tahu kalau ada temperan," ujar Soerjanto.

Ironisnya, informasi kritis justru tak sampai. Rekaman percakapan menunjukkan masinis KA 5568A yang masih berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur akibat kerumunan masyarakat sempat berusaha melapor ke PK Selatan. Namun saat bersamaan, PK Selatan sedang sibuk mengamankan KA 5181 yang baru ditemper taksi hijau GreenSM.

Perbedaan Waktu di Enam Sistem Memperparah Kekacauan

KNKT juga menemukan anomali teknis lainnya: perbedaan rujukan waktu (master time) di enam sistem berbeda. Mulai dari radio komunikasi PK Manggarai, logger lokomotif, logger sistem persinyalan, ruang pelayanan KA di stasiun operasi, hingga CCTV KA dan CCTV stasiun. Akibatnya, kronologi kejadian sulit direkonstruksi secara presisi.

Soerjanto menambahkan, KNKT telah menerima laporan tindakan perbaikan dari para pihak terkait pasca-kejadian. Proses investigasi masih berlanjut untuk memastikan rekomendasi sistemik, termasuk penyederhanaan rantai komunikasi antar pusat kendali.

Reporter: Usman Harun
Sumber: cnbcindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top